May Day dan Strategi Politik di Balik Penunjukan Jumhur Hidayat
Dr. Selamat Ginting
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)
FORUM KEADILAN – Penunjukan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup oleh Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar keputusan administratif dalam reshuffle kabinet.
Inilah langkah politik yang sarat makna, terutama jika dikaitkan dengan momentum Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei hari ini.
Sebuah hari yang secara historis identik dengan mobilisasi massa dan tekanan politik dari kelompok pekerja.
Dalam konteks ini, pemerintah tampaknya sedang memainkan strategi klasik namun efektif, yakni: merangkul untuk mengendalikan.
Kooptasi sebagai Strategi Stabilitas
Jumhur bukan sosok teknokrat lingkungan hidup. Ia adalah aktivis buruh yang lama berada di garis depan advokasi pekerja.
Ketika figur seperti ini masuk ke dalam kabinet, pesan politiknya jelas. Pemerintah tidak ingin berhadapan dengan buruh di jalanan, melainkan mengajak mereka masuk ke dalam lingkaran kekuasaan.
Langkah ini dapat dibaca sebagai bentuk kooptasi politik, sebuah strategi meredam potensi oposisi dengan menjadikannya bagian dari sistem.
Dalam banyak kasus, pendekatan ini efektif untuk menurunkan tensi konflik. Buruh tetap turun ke jalan, tetapi tidak lagi sepenuhnya berada dalam posisi berseberangan dengan negara.
May Day 2026, dengan demikian, berpotensi tetap besar secara jumlah massa, tetapi lebih terkendali secara arah politik.
Dari Demonstrasi ke Legitimasi
Jika pada tahun sebelumnya publik menyaksikan gestur simbolik Presiden Prabowo yang “membuka baju” di hadapan buruh—sebuah ekspresi populisme yang kuat—maka tahun ini pendekatannya tampak lebih sistematis.
Pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan simbol kedekatan, tetapi mulai membangun arsitektur politik yang mengintegrasikan gerakan buruh ke dalam kekuasaan.
Dengan Jumhur berada di dalam kabinet dan tetap memiliki legitimasi di kalangan pekerja, demonstrasi berpotensi berubah fungsi: dari alat tekanan menjadi panggung legitimasi.
Dalam skenario ini, kehadiran Presiden di tengah massa buruh bukan lagi menghadapi kritik, melainkan menerima dukungan.
Mengelola Risiko Jalanan
Selama ini, May Day selalu menyimpan potensi eskalasi. Fragmentasi serikat buruh, isu-isu sensitif seperti outsourcing, PHK, dan perlindungan pekerja, dapat dengan mudah memicu aksi besar yang tidak terkendali.
Namun dengan adanya figur seperti Jumhur di dalam pemerintahan, negara memiliki “jembatan komunikasi” langsung dengan massa. Ini menurunkan kemungkinan demonstrasi berubah menjadi konfrontasi terbuka.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar bersiap menghadapi demonstrasi, tetapi berupaya mendesain ulang karakter demonstrasi itu sendiri.
Risiko Mengintai
Meski terlihat canggih, strategi ini bukan tanpa risiko. Pertama, tidak semua kelompok buruh akan menerima pendekatan kooptasi. Sebagian bisa memandang langkah ini sebagai bentuk “penjinakan” gerakan, bahkan pengkhianatan terhadap independensi buruh.
Kedua, ekspektasi akan meningkat tajam. Ketika seorang aktivis buruh masuk ke dalam kabinet, publik pekerja berharap adanya perubahan nyata—bukan sekadar simbolik. Jika tuntutan-tuntutan utama tidak terpenuhi, kekecewaan yang muncul justru bisa lebih besar dan lebih berbahaya secara politik.
Dalam situasi seperti itu, kooptasi bisa berbalik menjadi bumerang.
Penutup
Penunjukan Jumhur Hidayat menjelang May Day 2026 menunjukkan pemerintah sedang menjalankan strategi preventif untuk menjaga stabilitas politik.
Demonstrasi tidak dihapus, tetapi diarahkan. Kritik tidak dibungkam, tetapi diserap. Namun pada akhirnya, keberhasilan strategi ini tidak ditentukan oleh siapa yang berdiri di panggung Monas pada 1 Mei, melainkan oleh apa yang terjadi setelahnya.
Jika kebijakan konkret tidak mengikuti, maka harmoni yang tampak hari ini bisa berubah menjadi akumulasi ketegangan di masa depan.
May Day tahun ini, dengan demikian, bukan sekadar peringatan perjuangan buruh—tetapi juga ujian bagi kemampuan negara mengelola kekuatan sosial tanpa kehilangan kepercayaan mereka.*
