Ternyata BSSN Sudah Prediksi Serangan Hacker ke Server Pemerintah Sejak 2023

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI Hinsa Siburian saat memberikan keterangan pers di Gedung Kominfo, Jakarta Pusat, Selasa, 25/6/2024 | YouTube Kemkominfo TV
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI Hinsa Siburian saat memberikan keterangan pers di Gedung Kominfo, Jakarta Pusat, Selasa, 25/6/2024 | YouTube Kemkominfo TV

FORUM KEADILAN – Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI Hinsa Siburian mengaku sudah memprediksi akan ada serangan siber, termasuk serangan ransomware terhadap server Pusat Data Nasional (PDN) 2 sejak tahun 2023.

Pernyataan itu disampaikan Hinsa saat rapat kerja antara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan BSSN dengan Komisi I DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 27/6/2024.

Bacaan Lainnya

“Pertama-tama kami sampaikan bahwa pada tahun 2023 sebenarnya kita sudah membuat prediksi untuk semua, dalam hal ini kalau intel ada kir intel di tahun 2024, maka kita juga buat kir intel atau prediksi apa yang akan terjadi di tahun 2024 dari sisi serangan siber,” kata Hinsa.

“Di antaranya adalah ransomware yang kejadian saat ini, kemudian yang lain ada web divestment, ada ITO attack,” imbuhnya.

Hinsa menjelaskan bahwa web divestment biasanya banyak digunakan untuk judi online. Menurut dia, hal itu sudah juga diprediksi akan terjadi di Indonesia pada 2024.

Kemudian, serangan siber lainnya yang diprediksi bakal terjadi di tahun 2024, antara lain distributed denial of service, cyber threat based, dan advanced persistent threat.

“Itulah gambaran prediksi kemungkinan serangan-serangan siber yang akan terjadi di 2024 ini,” ujarnya.

Namun Hinsa mengaku bahwa prediksi tersebut sudah disampaikan ke semua lembaga agar dapat mengantisipasi serangan siber tersebut.

Sebelumnya, Kepala BSSN Hinsa Siburian menyebut, bocornya data PDN imbas dari serangan siber ransomware terhadap server PDN.

“Insiden PDS ini adalah serangan cyber dalam bentuk ransomware dengan nama Brain Cipher Ransomware,” kata Hinsa saat konferensi pers di Kantor Kominfo, Jakarta Pusat, Senin, 24/6.

Menurut Hinsa, dampak dari serangan server PDN cukup luas. Salah satu yang paling terdampak, yakni soal layanan keimigrasian.

Layanan imigrasi di sejumlah bandara internasional, menurut Hinsa, sempat terganggu. Seluruh autogate juga sempat tidak berfungsi, namun kini berangsur pulih.

Atas serangan terhadap PDN itu, Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid meminta Kominfo dan BSSN tidak saling tuding dan saling menyalahkan mengenai serangan brain chiper ransomware terhadap PDN.

Menurut Meutya, kedua lembaga tersebut harus sama-sama bertanggung jawab. Sebab, bagi dia, saling tuding yang dilakukan Kemenkominfo dan BSSN merupakan tindakan yang tidak produktif dan solutif.

“Yang paling penting sekarang bukan saling tuduh (tapi) kerja sama untuk kemudian membereskan yang masalah. Masalah belum beres kok malah jadi saling tuduh duluan. Saling tuduh itu kan perlu energi. Ngeberesin masalah ini perlu energi luar biasa,” kata Meutya kepada wartawan saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 26/6.

Menurut Ketua DPP Golkar itu, kebocoran data di PDN memiliki dampak yang sangat luas. Dengan demikian, lanjut dia, pihaknya memberikan kritikan kepada kedua lembaga tersebut.*

Laporan M. Hafid