Airlangga Optimistis Indonesia Dapat Pertahankan Defisit APBN di Bawah 3%

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (Menko Perekonomian RI) Airlangga Hartarto di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Jakarta Pusat, Kamis, 20/6/2024 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (Menko Perekonomian RI) Airlangga Hartarto di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Jakarta Pusat, Kamis, 20/6/2024 | Novia Suhari/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa dirinya merasa optimis terhadap defisit anggaran APBN Indonesia untuk bisa dipertahankan di bawah 3 persen.

Airlangga mengatakan bahwa rancangan defisit itu diharapkan dapat menjadi dorongan bagi semua pihak untuk tetap optimis terhadap kondisi perekonomian nasional pada saat ini dan kedepannya.

Bacaan Lainnya

“Baru jadi alarm itu kalau kita lihat defisit anggaran di negara-negara Uni Eropa (UE) yang rata-rata 5 persen sampai 7 persen. Alarmnya bunyinya di Eropa bukan di Indonesia, Indonesia masih di bawah 3 persen,” kata Airlangga dalam keterangannya, Sabtu, 22/6/2024.

Pemerintah telah mengusulkan target defisit anggaran pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 dalam kisaran 2,45 persen sampai 2,82 persen untuk mengantisipasi pembayaran bunga utang pada tahun depan. Diperkirakan bahwa pembayaran bunga meningkat diakibatkan pengaruh suku bunga global dan tekanan mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Airlangga menyampaikan bahwa Bank Sentral UE juga telah mengingatkan negara-negara anggotanya untuk dapat memelihara tingkat defisit anggaran di bawah 3 persen.

“Anda bisa lihat negara Jerman, Prancis, Italia, itu (defisitnya) antara 5 persen sampai 7 persen, dan Indonesia di bawah 3 persen, jadi tidak perlu panik. Mereka sudah dapat peringatan dari Bank Sentral UE kalau negara-negara UE harus ikut seperti negara-negara Asia,” jelasnya.

Airlangga meyakini kebijakan perekonomian Pemerintah di tahun depan masih akan tetap sejalan dengan kebijakan yang ada pada saat ini. Hal tersebut tergambar dari neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2024 yang diketahui tercatat mendapatkan surplus USD2,93 miliar dan mampu melanjutkan tren surplus selama 49 bulan berturut-turut.

“Selain dari segi trade kita surplus, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tinggi di 5,11 persen, kemudian inflasi rendah di 2,8 persen, kemudian juga dari daya saing juga relatif tinggi. Peringkat daya saing Indonesia naik sebanyak 7 tingkat pada 2024 ini, tertinggi dalam 6 tahun terakhir,” lanjutnya.

“Riset IMD World Competitiveness Ranking 2024 mencatat bahwa Indonesia menduduki posisi ke-27 dari 67 negara, di mana pada 2023 lalu Indonesia berada di posisi ke-34. Jadi secara fundamental Indeks Keyakinan Konsumen juga baik, PMI kita juga positif di atas 50,” tambahnya.

Walaupun kondisi fundamental ekonomi masih dikategorikan stabil, tetapi Pemerintah masih terus menjaga faktor sentimental regional dan mendorong masuknya investasi ke Indonesia.

“Devisa Hasil Ekspor juga kita dorong, dan juga kita minta kepada para pengusaha yang ekspornya masih punya devisa di luar negeri untuk dimasukkan ke dalam negeri,” pungkasnya.*