PKS Merugi Jika Tak Dukung Anies kerena Tersandera Politik Penguasa

Anies Baswedan menyampaikan visi-misinya di Debat Kelima Pilpres 2024 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Minggu 4/2/2024. | Youtube KPU RI
Anies Baswedan menyampaikan visi-misinya di Debat Kelima Pilpres 2024 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Minggu 4/2/2024. | Youtube KPU RI

FORUM KEADILAN – Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) dikabarkan tidak akan mengusung Anies Baswedan sebagai calon gubernur (cagub) di Pilkada 2024.

Belakangan, berhembus juga kabar PKS akan mendapatkan akan kompensasi jatah kursi menteri di pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka jika tidak mengusung Anies.

Bacaan Lainnya

Apakah situasi tersebut bakal membuat PKS memilih untuk tidak mencalonkan Anies?

Pengamat Politik dari Citra Institute Yusak Farchan menilai, lobi tersebut memang membuat PKS gamang saat ini. Sebab, PKS tentunya juga punya keinginan untuk berada di barisan kekuasaan usai sepuluh tahun menjadi oposisi Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)

“Iya PKS dalam situasi gamang ya, apakah mengajukan Pak Anies atau tidak. Karena PKS kan juga punya kepentingan bagaimana merapat kekuasaan. Sementara, kekuasaan saat ini kan memang cenderung tidak mendukung Anies,” kata Pengamat Politik dari Citra Institute, Yusak Farchan kepada Forum Keadilan, Selasa, 18/6/2024.

Yusak menilai, mendukung Anies akan menjadi batu sandungan bagi PKS untuk merapat ke Pemerintahan Prabowo. Terlebih, partai koalisi pendukung Prabowo-Gibran yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) pada Pilpres lalu, cenderung menolak Anies maju di Pilgub Jakarta.

Ditambah lagi, Anies dikabarkan akan didukung PDIP. Sebagaiman diketahui, hubungan PDIP dengan kubu Presiden Jokowi masih memanas hingga saat ini. Hal itu lah yang menurut Yusak menambah kegamangan PKS.

“Karena kan partai-partai yang tergabung di KIM ini kan ada chemistry yang sama. Bagaimana membendung Anies Baswedan sebagai gubernur Jakarta ke depan. Sehingga, kalau PKS mendukung Anies kesempatan untuk masuk ke Prabowo-Gibran sangat kecil,” ungkapnya.

Sebaliknya, kata Yusak, akan cukup beresiko jika PKS tetap tidak mau mendukung Anies dan memilih menerima tawaran penguasa. PKS nantinya akan ditinggalkan kader dan pemilih setianya.

“Tetapi kalau melihat arus ya grasroot di bawah, teman-teman PKS baik struktural maupun non struktural, saya kira arus kuatnya adalah bagaimana mencalonkan kembali Pak Anies sebagai calon gubernur,” ujarnya.

Kendati ditinggal PKS, elektabilitas Anies dianggap tidak akan goyah berada di puncak tertinggi. Sebab mantan Rektor Paramadina itu mendapat sokongan suara dari kalangan akar rumput PKS.

“PKS kan dalam situasi tersandera ya, apakah mendukung Anies atau tidak. Kalau mendukung Anies sebagai calon gubernur ya tentu potensi untuk diberikan akses kekuasaan masuk ke Prabowo Gibran juga sangat kecil,” terangnya.

Dengan berbagai konsekuensi tersebut, Yusak menilai elit PKS tidak akan berani untuk melawan kekuatan arus bawah dengan cara meninggalkan Anies di Pilgub Jakarta.

“Saya kira PKS belum tentu berani melawan arus kuat ya karena ya kemarin di Pilpres 2024 efek Anies juga cukup signifikan bagi PKS ya, terutama kemenangan di DKI Jakarta. Jadi cukup berisiko juga kalau misalnya PKS tidak mendukung Pak Anies Baswedan,” pungkasnya.

Laporan M. Hafid