Kampung Penadah di Pati, Peran Bhabinkamtibmas Tak Berjalan

Pengamat Kepolisian ISESS Bambang Rukminto. | Azzi Tri Pangestu/Forum Keadilan
Pengamat Kepolisian ISESS Bambang Rukminto. | Azzi Tri Pangestu/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Tewasnya bos rental yang terjadi di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, berbuntut panjang. Kecamatan tersebut, kini disorot warganet karena banyaknya ditemukan kendaraan yang tak jelas surat kepemiliknya.

Desa tersebut bahkan ditandai di aplikasi Google Maps oleh warganet dengan nama Kampung Maling Mobil.

Bacaan Lainnya

Sebab belakangan, Kepolisian menemukan 33 kendaraan sepeda motor dan 6 mobil saat mencari para pelaku pengeroyokan di desa tersebut.

Terkait adanya sebuah desa yang disebut sebagai sarang maling ini, Pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto mempertanyakan fungsi dan peran Bhabinkamtibmas maupun Intelkam di sana.

Menurut Bambang, bisa jadi peran Bhabinkamtibmas tidak berjalan dan dilakukan dengan benar.

“Peran Bhabinkamtibmas tentunya melakukan pembinaan pada masyarakat agar tertib hukum. Sedangkan peran Intelkam, tentunya melakukan mitigasi terhadap potensi gangguan keamanan maupun pelanggaran hukum. Mungkin itu tidak berjalan dengan benar,” katanya kepada Forum Keadilan, Senin, 17/6/2024.

Kemudian soal tewasnya bos rental berisial BH yang tewas. Sebagaimana diketahui, korban dihajar massa saat mencari mobil Honda Mobilio miliknya yang tak kunjung dikembalikan oleh penyewa.

Diketahui, korban juga sempat melaporkan kehilangan tersebut ke Polres Metro Jakarta Timur.

Namun nyatanya, BH justru lebih lihai melacak pelaku. Ia menemukan sendiri mobilnya berada di Desa Sumbersoko, Kecamatan Sukolilo.

Nahas, ketika hendak mengambil mobil miliknya, warga setempat berteriak ‘maling’. Warga lain yang mendengarnya langsung menganiaya korban.

Bambang menjelaskan, memang polisi sering kali kurang peduli pada pastisipasi masyarakat.

“Bisa jadi korban lebih aktif untuk mencari keberadaan mobilnya. Peran aktif dari korban memang sangat dibutuhkan. Polisi memang memiliki keterbatasan, sehingga memiliki skala prioritas dalam menangani sebuah laporan masyarakat yang sangat banyak. Meskipun demikian, harusnya tetap aware (peduli) pada partisipasi masyarakat. Awarenes ini yang seringkali diabaikan oleh personel kepolisian,” papar Bambang.

Bambang mengatakan, Kepolisian terkadang lupa bahwa mereka bekerja sebagai anggota Polri wilayahnya meliputi Sabang sampai Merauke.

“Jadi kendala batasan wilayah seharusnya tak menjadi kendala bila koordinasi yang bagus antar satuan wilayah, dan ada satuan khusus di setiap wilayah yang bisa merespons lebih cepat hasil koordinasi,” jelasnya.

Di sisi lain, ketika korban mengungkap sendiri kasusnya, sudah sepantasnya menginformasikan terlebih dahulu kepada Kepolisian. Jika tidak, artinya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap polisi rendah.

“Semakin kepercayaan masyarakat pada Kepolisian rendah, semakin tinggi anggota masyarakat melakukan tindakan sendiri, termasuk main hakim sendiri,” tutupnya.*

Laporan Merinda Faradianti