Jebakan Batman Wacana Duet Anies-Kaesang di Pilgub Jakarta

Capres nomor urut 1 Anies Baswedan usai nyoblos di TPS 60, Cilandak Barata, Jakarta Selatan, Rabu, 14/2/2024. | M. Hafid/Forum Keadilan
Capres nomor urut 1 Anies Baswedan usai nyoblos di TPS 60, Cilandak Barata, Jakarta Selatan, Rabu, 14/2/2024. | M. Hafid/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep diisukan akan berduet dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2024. Namun, Anies dinilai akan kehilangan reputasi politiknya jika wacana duet dapat terealisasi.

Isu duet antara Anies dan Kaesang dilambungkan pertama kali oleh Hasbiallah Ilyas, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DKI Jakarta. Wacana tersebut diucapkan setelah DPW PKB menyepakati nama Anies Baswedan sebagai bakal calon gubernur Jakarta mendatang.

Bacaan Lainnya

“Kita juga bersedia kalau Mas Kaesang memang mau mencalonkan wakil gubernur DKI. Kita juga sudah komunikasi dengan PSI. Siapa pun kita terbuka,” kata Hasbiallah di Kantor DPW PKB DKI Jakarta, Rabu, 12/6/2024.

Bak gayung bersambut, wacana duet tersebut diterima dengan terbuka oleh Kaesang. Putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu juga mengaku siap apabila disandingkan dengan Anies.

Menurut Kaesang, Anies lebih realistis untuk dijadikan sebagai pasangan lantaran elektabilitasnya berada di puncak tertinggi untuk Pilgub Jakarta.

“Ini kan saya belum bisa, saya kan juga belum dicalonkan juga dan kalau misalnya melihat survei ya paling realistis dengan Pak Anies,” kata Kaesang di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat, 14/6.

Pengamat Politik dari Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai, wacana duet Anies-Kaesang tak lebih dari sekadar gimmick politik PSI. Menurut Dedi, PSI sengaja menciptakan gimmick itu lantaran Anies dilirik PDIP untuk dicalonkan di Pilgub Jakarta.

“Wacana Anies-Kaesang lebih pada gimmick politik PSI, terlebih adanya wacana sokongan PDIP ke Anies Baswedan,” kata Dedi kepada Forum Keadilan, Sabtu, 15/6.

Meski begitu, Dedi mengungkapkan Anies dihadapkan pada risiko yang sangat besar apabila terjebak dalam gimmick politik yang dibuat oleh PSI. Anies, lanjut dia, akan kehilangan reputasi politik yang sudah dibangun selama ini.

Ditambah lagi, kata Dedi, Anies belum tentu memenangkan pertarungan sekalipun menggandeng Kaesang. Sebab, terdapat perbedaan ceruk suara yang saling bertentangan antara pemilih Anies dengan pendukung partai yang berafiliasi dengan Jokowi.

“Andai menang karena adanya sokongan kekuasaan, Anies potensial kehilangan simpati pemilih nasional,” terangnya.

Menurut Dedi, pemilih Anies selama ini datang dari mereka yang kontra terhadap Jokowi. Maka ketika Anies memenangkan kontestasi politik Jakarta, justru akan kehilangan dukungan publik secara nasional.

Di sisi lain, Dedi tak memungkiri bahwa peluang menang pasangan Anies-Kaesang sangat terbuka, karena disokong oleh penguasa. Namun kemenangannya itu akan dipenuhi dengan polemik.

Kondisi itu sama dengan apa yang terjadi di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, di mana Prabowo Subianto yang berpasangan dengan putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, keluar sebagai pemenang Pilpres.

“Peluang menang akan terbuka, menyerupai kemenangan Gibran, tentu diiringi polemik,” paparnya.

Kemungkinan lainnya juga bisa terjadi, kata Dedi, Anies-Kaesang bisa saja dibuat kalah sebagaimana yang sudah didesain oleh mereka atas dasar untuk meruntuhkan reputasi Anies. Dengan demikian, Anies seakan terperangkap dalam jebakan batman mereka.

“Akan sangat baik jika Anies hati-hati dengan wacana semacam ini. Itu perlu diwaspadai, geliat Jokowi cenderung anti Anies terlihat jelas selama ini,” tandasnya.*

Laporan M. Hafid