BRIN Sebut Split Ticket Voting pada Pemilu 2024 Fenomena 20 Tahunan

Peneliti Pusat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati | Instagram @wasistojati
Peneliti Pusat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati | Instagram @wasistojati

FORUM KEADILAN – Peneliti Pusat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati menyebut Split Ticket Voting (STV) Pada Pemilu 2024 merupakan fenomena 20 tahunan.

“Kita tidak tahu apakah ini fenomena 20 tahunan atau fenomena tertentu,” katanya, dalam Diskusi Launching Hasil Riset Menguatnya Split Ticket Voting Pada Pemilu 2024 secara daring, Jumat, 17/5/24.

Bacaan Lainnya

Hal ini merujuk pada Hasil Riset The Strategic Research and Consulting (TSRC) pada dua daerah yakni, Jakarta dan Jawa Timur yang menunjukan adanya ketidakselarasan kemenangan antara suara Capres-Cawapres yang diusung dengan suara partai.

Wasisto juga menegaskan fenomena STV ini menjadi semacam fenomena bias dan  anomali di Indonesia untuk pemilu tahun ini.

“Karena kalau kita lihat dari pemilu 2004, 2009, hingga 2019. STV itu edisinya hanya ada di dua pemilu yaitu 2004 dan 2024, selebihnya itu dampak ekor jas dari partai 2009 hingga 2019,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan di Indonesia tendensi kandidat itu banyak, oleh karena itu memicu STV.

“Tapi STV itu tidaklah mengarah secara menyebar ke berbagai macam kandidatnya,” ucapnya.

Selain itu, STV juga dipengaruhi dengan adanya efek figuritas, yang ikut bermain untuk bisa mengalahkan suara kandidat tertentu.

“Hingga kita bisa membaca, banyak kandidat pun tidak menjamin STV ini akan menyebar, tetapi ada faktor X lain, seperti popularitas dari isu maker ataupun incumbent yang maju, sehingga suara terarah ke kandidat atau partai tertentu,” ucapnya.

Disisi lain, efek figuritas juga menunjukan jika Indonesia memiliki landasan ideologis yang lemah.

“Karena (pemilih) lebih larinya ke figur, masalahnya kalau kita lebih memilih ke sosok figur, figurnya akan memicu dinasti politik,” katanya.

Wasisto berpesan, masyarakat Indonesia harus bisa memilih sosok dari segi partisipan-nya, bukan karena figuritas-nya untuk Pilkada 2024 nanti.

“Sudah saatnya kita memilih sosok dari partisipan ship, karena jangan sampai kemudian lambat laun, dan cenderung sosok figur semakin naik dan incumbent ke Pemilu, dinasti politik akan naik,” pungkasnya. *

Laporan Novia Suhari