Alice Norin Kena Kanker Sarkoma di Rahim, Kenali Penyebab dan Pengobatannya

Ilustrasi kanker
Ilustrasi kanker | ist

FORUM KEADILAN – Artis Alice Norin mengabarkan dirinya terkena kanker sarkoma yang menyerang pada bagian otot rahim di usianya yang menjelang 40 tahun.

Bintang sinetron Tukang Bubur Naik Haji the Series itu bercerita sempat mengeluhkan nyeri perut bagian bawah sejak Agustus 2023. Ia lalu memeriksakan diri.

Bacaan Lainnya

Dari hasil pemeriksaan, dokter melihat miom atau benjolan di dinding rahim Alice Norin.

“Aku divonis kanker sarkoma yaitu kanker langka yang berkembang di otot rahim. Nggak ini nggak lagi bercanda, dan aku juga lagi nggak nyari perhatian. Buat apa penyakit dibercandain kan, walau awal dengar aku juga berpikir begitu,” ungkap Alice di media sosial pribadinya, dikutip, Jumat, 16/2/2024.

Apa itu kanker sarkoma di rahim?

Kanker sarkoma rahim, atau sering juga disebut sebagai kanker sarkoma uteri, adalah jenis kanker yang muncul dari jaringan yang menyusun rahim, yang dikenal sebagai jaringan uterus atau endometrium.

Meskipun kanker rahim yang paling umum adalah kanker endometrium (kanker rahim bagian dalam), kanker sarkoma rahim merupakan salah satu jenis kanker rahim yang lebih jarang terjadi, tetapi tetap penting untuk diwaspadai.

Sarkoma rahim biasanya berkembang dari jaringan otot atau jaringan ikat di dalam dinding rahim, berbeda dari kanker endometrium yang biasanya berasal dari lapisan dalam rahim.

Penyebab

Meskipun penyebab pasti dari kanker sarkoma rahim belum sepenuhnya dipahami, ada beberapa faktor risiko yang telah diidentifikasi:

1. Usia

Risiko kanker sarkoma rahim meningkat seiring bertambahnya usia, dengan insiden yang lebih tinggi pada wanita usia 50 tahun ke atas.

2. Terapi Radiasi

Terapi radiasi sebelumnya untuk kondisi medis tertentu di daerah panggul atau rahim dapat meningkatkan risiko sarkoma rahim.

3. Paparan Tamoksifen

Penggunaan tamoksifen, obat yang digunakan dalam pengobatan kanker payudara, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker sarkoma rahim pada wanita yang menggunakannya.

4. Genetika

Beberapa kasus kanker sarkoma rahim juga terkait dengan faktor genetik dan keluarga.

Gejala

Gejala kanker sarkoma rahim dapat bervariasi dari satu individu ke individu lainnya. Namun, beberapa gejala umum yang mungkin terjadi meliputi:

  • Perdarahan tidak normal: Seperti pendarahan di antara periode menstruasi atau setelah menopause.
  • Nyeri panggul: Terutama saat berhubungan seksual atau nyeri konstan di daerah panggul.
  • Peningkatan aliran keputihan: Keputihan yang berlebihan dan berbau tidak sedap.

Diagnosis

Untuk mendiagnosis kanker sarkoma rahim, dokter biasanya akan melakukan serangkaian tes dan prosedur, termasuk:

1. Pemeriksaan Fisik

Termasuk pemeriksaan panggul dan pemeriksaan bimanual untuk mencari tanda-tanda fisik.

2. Tes Imagi

Seperti ultrasonografi transvaginal, CT scan, atau MRI, untuk melihat struktur rahim dan jaringan di sekitarnya.

3. Biopsi

Pengambilan sampel jaringan yang kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari tanda-tanda kanker.

Pengobatan

Pilihan pengobatan untuk kanker sarkoma rahim bergantung pada faktor-faktor, seperti tahap kanker, usia, dan kesehatan secara keseluruhan. Beberapa opsi pengobatan yang mungkin digunakan termasuk:

  • Pembedahan: Meliputi pengangkatan rahim (histerektomi) dan mungkin juga pengangkatan jaringan dan organ di sekitarnya.
  • Terapi Radiasi: Penggunaan sinar tinggi untuk membunuh sel kanker.
  • Kemoterapi: Penggunaan obat-obatan untuk menghancurkan sel kanker.
  • Terapi Targeted: Penggunaan obat-obatan yang ditujukan untuk merusak sel kanker secara khusus.

Pencegahan

Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah kanker sarkoma rahim, beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko termasuk:

  • Menggunakan Terapi Hormon dengan Hati-hati: Terutama bagi wanita yang telah mengalami kanker payudara dan harus menggunakan tamoksifen.
  • Pemeriksaan Rutin: Pemeriksaan panggul dan pap smear secara teratur dapat membantu mendeteksi kanker rahim pada tahap awal.
  • Hidup Sehat: Menerapkan gaya hidup sehat dengan menjaga berat badan yang sehat, berolahraga secara teratur, dan mengonsumsi makanan yang sehat.*