KPU Enggan Tanggapi Viralnya Dugaan Penggelembungan Suara Prabowo-Gibran di Sirekap

Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari di kantor KPU RI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 15/2/2024. I Merinda Faradianti/Forum Keadilan
Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari di kantor KPU RI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 15/2/2024. I Merinda Faradianti/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) yang dimiliki Komisi Pemilihan Umum (KPU) bermasalah saat Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meng-input data perolehan suara.

Tak hanya itu, netizen di media sosial (medsos) X juga ramai membicarakan kesalahan Sirekap saat membaca formulir C hasil, yang menyebabkan terjadinya dugaan penggelembungan suara di pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Bacaan Lainnya

Ketua KPU RI Hasyim Asy’ari membenarkan bahwa terdapat beberapa aduan mengenai kesalahan saat input data Sirekap. Hasyim mengatakan, pihaknya sudah melakukan perhitungan dan KPU telah mengoreksi kesalahan tersebut.

“Kami mengetahui dan tentu saja untuk menghitung itu akan kami koreksi sesegera mungkin. Patut kita syukuri bahwa Sirekap ini bisa bekerja, karena publik bisa melihat secara transparan,” katanya saat melakukan konferensi pers di kantor KPU RI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 15/2/2024.

Hasyim menegaskan, tidak ada data atau hasil yang ditutup-tutupi. Hingga saat ini, publikasi data Sirekap sudah diunggah sebanyak 358.775 dari 823.236 TPS atau setara dengan 43,58 persen.

“Kalau pembacaannya kurang sempurna, kami KPU masih manusia biasa pasti sangat mungkin salah. Tapi, KPU enggak boleh bohong harus jujur. Tidak ada niat mengubah hasil suara dari formulir C hasil itu. Karena Sirekap mengenali apa saja data yang tidak sama,” tegasnya.

Namun ketika ditanya mengenai viralnya penggelembungan suara pasangan Prabowo-Gibran di media sosial, Hasyim enggan menanggapi lebih lanjut.

“Kalau itu, enggak perlu dijawab,” balasnya singkat.

Sebelumnya, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Idham Holik juga telah menjelaskan mengenai kesalahan yang dilakukan Sirekap tersebut. Kata Idham, saat ini KPU terus meningkatkan performa sistem Sirekap supaya dapat lebih cepat dan lebih tepat dalam menampilkan data.

“Jika kemarin ada sedikit kendala dalam proses input data atau unggah dokumen formulir model C hasil pleno itu dikarenakan memang Sirekap mengelola data seluruh TPS di Indonesia dengan jumlah 820.161,” jelas Idham.

Terkait adanya penggelembungan suara di Sirekap, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Rahmat Bagja mengatakan bahwa Sirekap bukanlah penentu hasil Pemilu 2024.

“Harus kami sampaikan bahwa Sirekap adalah bukan penentu terhadap rekapitulasi. Penentunya tetap menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 (tentang Pemilu) adalah manual rekapitulasi. Jadi, bukan Sirekap. Sirekap hanya alat bantu,” kata Bagja saat konferensi pers.

Bagja mengaku, Bawaslu RI telah menemukan permasalahan yang berkaitan dengan Sirekap, dan akan menindaklanjutinya.*

Laporan Merinda Faradianti