Anies Bubble di Mata Masing-Masing Tim Pemenangan

Capres nomor urut 1, Anies Baswedan, dalam acara Debat Pertama Calon Presiden (capres) Pemilu 2024 di kantor KPU Pusat, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa 12/12/2023 | Youtube KPU RI
Capres nomor urut 1, Anies Baswedan, dalam acara Debat Pertama Calon Presiden (capres) Pemilu 2024 di kantor KPU Pusat, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa 12/12/2023 | Youtube KPU RI

FORUM KEADILANAnies Baswedan menjadi idola baru para penggemar K-pop atau K-popers. Gerakan Anies di media sosial (medsos) ini diakui oleh masing-masing tim pemenangan sebagai cara sah untuk menyentuh generasi muda.

Dukungan terhadap calon presiden (capres) dari nomor urut 1, Anies Baswedan marak di medsos khususnya Twitter atau X dan TikTok. Dukungan ini diberikan usai Anies melakukan live di TikTok belakangan ini.

Bacaan Lainnya

Gaya Anies saat live disebut mirip Idol Korea. Anies pun disambut antusias oleh para K-popers di dunia maya. Bahkan, para K-popers itu sampai membuat akun Anies Bubble di X yang dibanjiri followers.

Juru bicara Tim Nasional Anies dan Muhaimin Iskandar (Timnas AMIN), Luluk Nur Hamidah mengatakan, dukungan K-popers yang diberikan kepada Anies, tidak lepas dari keotentikan sang capres.

“Menurut saya, Pak Anies ini otentik. Dia tidak perlu harus capek-capek meng-create (membuat) dirinya sedemikian rupa agar tampak menjadi sosok yang kira-kira itu memenuhi ruang mimpinya umur-umur muda,” kata Luluk kepada Forum Keadilan, Selasa 2/1/2024.

Luluk mengaku, awalnya live tersebut sama sekali tidak dimaksudkan sebagai sebuah strategi kampanye. Artinya memang tidak dibuat-buat. Jadi, gaya Anies itu muncul secara natural.

Menurut Luluk, Anies mampu memasuki dunia anak muda yang aktif di media sosial dengan membicarakan hal-hal yang ringan serta memberi masukan kepada mereka. Sebab secara sosiologis, anak muda saat ini memiliki kesenjangan komunikasi dalam keluarga. Mereka butuh sosok atau figur Ayah untuk bercerita, yang kemudian bertemulah dengan Anies.

“Bayangkan, ada jutaan anak-anak sebenarnya hari ini yang mencari figur tentang Ayah. Mereka memang punya keluarga, tetapi mereka merasa sendiri, ada yang enggak nyambung, ada yang enggak bisa diajak bicara. Nah, ternyata Mas Anies itu muncul mengisi ruang itu,” ujarnya.

Luluk tidak heran jika Anies kemudian dijuluki sebagai Abah Online oleh para anak muda. Julukan itu sebenarnya mengikuti anak Anies, Mutiara Baswedan yang memanggil Anies dengan sebutan Abah.

Luluk juga mengatakan bahwa pihaknya tidak hanya mengandalkan dukungan di media sosial semata, melainkan akan berusaha agar dukungan K-popers itu dapat dikonversi dalam bentuk suara saat pemilihan pada 14 Februari 2024 nanti.

Dia mengaku, akan tetap melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan para anak muda. Terlebih soal tata cara pencoblosan, kertas suara, dan mengajak untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

“Tim AMIN dan juga relawan khususnya tetap di lapangan, harus ada sosialisasi yang berkaitan dengan cara mencoblos, kertas suaranya apa, kemudian harus di-encourage (didorong) untuk datang ke TPS. Jadi, ini tetap harus juga dilakukan, karena popularitas kecintaan di media sosial itu harus di-encourage,” ujarnya.

Sementara, Juru bicara Tim Pemenangan Nasional Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Chico Hakim berkomentar bahwa cara Anies menggaet perhatian anak muda itu sah-sah saja. Sebab, para penggemar K-pop sendiri merupakan bagian dari masyarakat Indonesia.

“Menurut kami sah saja. Kelompok fans K-pop ini kan nyata ada di Indonesia. Mereka juga bagian dari unsur masyarakat khususnya generasi tertentu,” ucapnya kepada Forum Keadilan, Selasa 2/1.

Ketua Koordinator Nasional Ganjar Center Poempida Hidayatulloh juga mengakuinya. Anies Bubble menurutnya, merupakan salah satu cara yang bisa menyentuh generasi muda.

“Saya rasa ini bisa mendapatkan perhatian mereka. Tapi mereka ini generasi yang sangat cerdas, pasti mereka akan banyak mencari tahu kepentingan apa yang mereka miliki akan diperjuangkan oleh capres dan cawapres. Termasuk mereka juga akan berkomunikasi dengan orang tua mereka. Jadi, logika pilihan mereka juga akan dipengaruhi oleh elemen-elemen seperti itu,” ujarnya.

Soal apakah tren Anies Bubble bisa menaikkan elektabilitas AMIN secara masif? Menurutnya mungkin saja. Tetapi ia meragukannya.

Poempi memandang, generasi Z (Gen Z) merupakan generasi yang sangat sulit dipahami oleh orang-orang di generasi sebelumnya.

“Selera dan apa yang mereka sukai memang jauh berbeda dengan logika umum di generasi saya. Jadi tidak heran para capres dan cawapres termasuk Anies, mencari sesuatu yang bisa menyentuh mereka secara komunikasi publik,” ujarnya.

Sedangkan dalam konteks sosial media, kata Poempi, yang namanya trending itu bukan saja mendapatkan potensi paparan pendukung, tetapi juga membuka paparan haters dan serangan.

“Jadi, pendekatan seperti itu juga bukan tidak berarti tidak ada risikonya secara elektoral,” jelasnya.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Grace Natalie juga tak ambil pusing soal viralnya akun Anies Bubble. Kata Grace, yang penting tak menggunakan politik identitas yang merusak toleransi.

Gapapa lah, namanya juga usaha. Yang penting jangan pakai politik identitas yang merusak toleransi,” ujarnya, Selasa 2/1.* (Tim FORUM KEADILAN)