Novel Baswedan Sebut Dewas Harapan Terakhir Kembalikan Marwah KPK

Mantan Kasatgas (Kepala Satuan Tugas) Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan saat mendatangi Gedung Merah Putih KPK, Kamis, 23/11/2023 | Merinda Faradianti/Forum Keadilan
Mantan Kasatgas (Kepala Satuan Tugas) Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan saat mendatangi Gedung Merah Putih KPK, Kamis, 23/11/2023 | Merinda Faradianti/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Mantan Kasatgas (Kepala Satuan Tugas) Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengatakan, tindakan pemerasan yang dilakukan Ketua KPK Firli Bahuri terhadap eks Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) adalah tindakan korupsi level tertinggi.

Novel menyebut, jika seseorang paham hukum, ia percaya bahwa pelaku kejahatan korupsi di tingkat pemerasan sering kali terlibat dalam tindakan korupsi lainnya, seperti gratifikasi, suap, dan sebagainya.

Bacaan Lainnya

“KPK yang diyakini melakukan praktik korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, harus segera diselesaikan dan diusut semuanya,” katanya saat mendatangi gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 23/11/2023.

Menurut Novel, terdapat banyak kasus korupsi lain yang perlu segera diusut oleh KPK, sehingga meskipun pimpinan tertinggi terjerat dalam kasus korupsi, KPK harus tetap menjadi lembaga yang konsisten dalam menuntaskan korupsi.

Novel menegaskan, Polri juga harus melihat adanya kemungkinan keterlibatan pimpinan KPK lainnya dalam dugaan korupsi yang menjerat Firli tersebut.

“Pimpinan KPK lainnya yang ikut terlibat, itu juga harus dilihat bahwa sebagai kemungkinan,” lanjutnya.

Novel juga mengkritisi Dewan Pengawas (Dewas) KPK yang selama ini terlihat takut memberikan sanksi terhadap Firli Bahuri. Meskipun begitu, Dewas KPK menjadi satu-satunya harapan publik untuk melihat dengan jelas bagaimana kondisi tubuh KPK itu sendiri.

“Hari-hari kemarin kita melihat begitu takutnya sama Firli Bahuri karena banyak kasus Firli tidak ditangani dengan benar. Apa sekarang Dewas KPK masih mau menyelesaikan tugasnya dengan label seorang pengecut? Tentu akan menjadi satu hal yang sangat memalukan,” tegasnya.

Novel berharap, Dewas KPK dapat mengambil peran untuk meminta para insan di KPK agar mau memberikan laporan ataupun informasi atas adanya praktik dugaan tindakan korupsi.

“Kita berharap Dewas KPK dapat membantu membersihkan KPK. Kalau Dewas KPK pun dengan kondisi seperti ini tetap diam, maka Dewan Pengawas akan mendapatkan label yang jelek sekali atas dirinya,” tutup Novel.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menetapkan Ketua KPK Firli Bahuri sebagai tersangka kasus dugaan pemerasan terhadap eks Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Penetapan tersebut dilakukan setelah gelar perkara, Rabu 22/11.

Firli disangkakan dengan Pasal 12 e atau Pasal 12 B atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 65 KUHP.*

Laporan Merinda Faradianti