Jokowi Dinilai Terjebak Toxic Relationship, Ada Rekan yang Haus Kekuasaan

Jokowi dalam keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 6/10.
Jokowi dalam keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 6/10/2023 | YouTube Sekretariat Presiden

FORUM KEADILAN – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai sedang dalam lingkaran yang membentuk budaya toxic relationship.

Sebelumnya, Politikus PDI Perjuangan (PDIP) Aria Bima menyebut, kalau hal tersebut ada pada langkah Jokowi memajukan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presiden (cawapres) Prabowo Subianto.

Bacaan Lainnya

Sependapat, Psikolog dari Universitas Bhayangkara Hanna Rahmi juga menilai kalau sikap Jokowi telah menggambarkan adanya toxic relationship di dalam pemerintahan. Ia menyebut bahwa toxic relationship pada dasarnya adalah kegiatan untuk saling memengaruhi.

Dalam dunia politik, sebutan toxic relationship lebih berkaitan pada proses di mana kekuasaan diambil dan digunakan dalam masyarakat.

Maka dari itu, Hanna menilai, keputusan Jokowi untuk mendorong anaknya menjadi pemimpin Indonesia  sebagai satu tindakan yang memaksakan situasi.

“Kondisi kerja yang toksik mendorong Jokowi untuk bertanggung jawab atas keadaan tersebut,” ucap Hanna dalam keterangannya, Kamis, 2/11/2023.

Menurut Hanna, Jokowi telah melupakan prinsip moral dan etika politik sesungguhnya, karena terlalu dalam berada dalam jebakan toxic relationship. Ia menggambarkan bagaimana tindakan melawan hal-hal yang dianggap tidak etis oleh masyarakat dari Jokowi sebagai bukti lain dari adanya paparan keburukan yang diterima Presiden dari lingkungannya saat ini.

“Dalam psikologi, toksisitas di lingkungan kerja biasanya merujuk pada situasi di mana kondisi psikologis atau emosional seseorang terpengaruh secara negatif oleh faktor-faktor tertentu di lingkungan kerja,” jelas Hanna.

Hanna menjelaskan, toxic relationship dalam sebuah organisasi bisa dilihat dari bagaimana penyalahgunaan kekuasaan melalui orang-orang yang dekat dengan pemimpinnya. Dari situ, kata Hanna, dapat dilihat siapa dan apa tujuannya untuk membuat pemimpin bisa larut dalam toxic relationship.

“Kekuasaan dapat memengaruhi cara seseorang berperilaku dan mengambil keputusan. Orang yang memiliki kekuasaan sering mengambil keputusan yang menguntungkan posisi mereka,” pungkas Hanna.*