Indo Barometer: Identik dengan Jokowi Kunci Kemenangan Pilpres 2024

Direktur Eksekutif Indo Barometer (IB) M. Qodari memaparkan situasi politik Pilpres 2024 di acara BNI Investor Daily Summit 2023 di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu 25/10/2023 | Laporan Charlie Adolf Lumban Tobing/Forum Keadilan
Direktur Eksekutif Indo Barometer (IB) M. Qodari memaparkan situasi politik Pilpres 2024 di acara BNI Investor Daily Summit 2023 di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu 25/10/2023 | Laporan Charlie Adolf Lumban Tobing/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Direktur Eksekutif Indo Barometer (IB) M. Qodari menyatakan bahwa kunci kemenangan Pilpres 2024 adalah keidentikan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Qodari, survei kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi telah mencapai 80 persen.

Bacaan Lainnya

“Pak Jokowi ini tingkat kepuasannya mencapai 80 persen. Jadi yang puas 80 persen, yang tidak puas 20 persen. Ini menciptakan struktur suara calon presiden (capres),” ujar Qodari dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023 di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 25/10/2023.

Qodari menjelaskan, kepemimpinan Jokowi berbeda dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kata dia, zaman SBY, tingkat kepuasan masyarakatnya hanya 35-37 persen, sehingga tidak bisa menjadi penentu situasi dan kondisi politik pada masa itu.

Kata Qodari, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi membuat suara pasangan calon yang membawa isu perubahan menjadi sulit berkembang.

“Ketika kepuasan kepada Pak Jokowi meningkat 80 persen, otomatis perolehan suara bagi Anies Baswedan itu tinggal 20 persen,” imbuhnya.

Kemudian, lanjut Qodari, suara 80 persen dari kepuasan Jokowi tadi diperebutkan oleh dua kandidat yang slogannya keberlanjutan, yaitu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

“Itu sebabnya sebelum pendaftaran dan seterusnya, kita melihat selisih suara Prabowo dengan Ganjar itu nggak beda-beda jauh,” ungkapnya.

Menurut Qodari, kunci kemenangan di Pilpres ialah calon presiden yang dianggap paling identik dan membawa aura Jokowi.

Sementara untuk partai politik, Qodari menjelaskan, sampai saat ini PDIP masih menduduki tren suara tertinggi. Kemudian disusul oleh Gerindra di peringkat kedua.

Sedangkan untuk peringkat tiga, empat dan lima terus bergonta-ganti. Tetapi, kata Qodari, secara garis besar diduduki oleh Golkar.

Soal apakah nantinya komposisi suara partai politik tersebut akan berubah atau tidak di pemilu legislatif mendatang, menurut Qodari, mungkin saja. Hal tersebut dapat terjadi kalau popularitas dari calon presidennya naik.

Qodari juga memaparkan bahwa kemungkinan besar Pilpres 2024 nanti akan digelar dalam dua putaran.

“Kalau melihat hasil survei, kemungkinan akan ada dua putaran. Jadi, kita harus agak tahan-tahan napas dan tahan-tahan jantung ini,” pungkasnya.*

Laporan Charlie Adolf Lumban Tobing