Prabowo-Gibran Bisa Munculkan Perang Politik?

Momen Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka | Ist
Momen Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka | Ist

FORUM KEADILAN – Nama Wali Kota Solo dan politisi PDIP Gibran Rakabuming Raka semakin sering disebut-sebut sebagai calon wakil presiden (cawapres) pendamping calon presiden (capres) Prabowo Subianto di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Terlebih lagi, terdapat banyak dukungan untuk pasangan Prabowo-Gibran dari DPC Gerindra di berbagai daerah hingga para relawan.

Bacaan Lainnya

Sejumlah elit Gerindra, termasuk Prabowo sendiri pun, terbuka dengan usulan Gibran sebagai cawapres. Kendati demikian, Prabowo menyebut, pihaknya masih menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait batas minimum usia capres-cawapres yang rencananya akan diumumkan MK pada 16 Oktober mendatang.

Diketahui, Gibran kini berusia 36 tahun, sementara batas minimal usia capres-cawapres saat ini adalah 40 tahun.

Gibran sendiri merespons santai dukungan dirinya maju sebagai cawapres Prabowo, serta pernyataan Ketua DPC PDIP Kota Solo FX Hadi Rudyatmo yang menyampaikan Gibran akan otomatis keluar dari PDIP apabila maju menjadi cawapres Prabowo.

“Aku biasa-biasa wae, yang dukung saya ada, yang dukung Pak Erick ada, yang dukung Pak Airlangga ada. Yang dukung Pak Sandiaga ada, ada semua makane sing mbok beritake ojo aku tok. Kalau masif saya sih tidak,” tutur dia di Balai Kota Solo, Rabu, 11/10/2023.

Bagaimana Jika Akhirnya Gibran Jadi Cawapres Prabowo?

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menyebut, jika benar Prabowo-Gibran dipasangkan, pencalonan mereka akan jadi ‘gempa bumi’ politik terbesar abad ini.

“Ya jadi gempa bumi politik terdahsyat abad ini. Gibran yang dulu di PDIP akan berhadapan dengan calon dari PDIP,” ujar Adi kepada Forum Keadilan, Kamis, 12/10.

Adi melihat, nama Gibran pun lebih ditekankan dibanding elit-elit dari partai di koalisi pendukung Prabowo. Menurutnya, Airlangga Hartarto, Erick Thohir, Agus Harimurti Yudhoyono, Anis Matta dan Yusril Ihza Mahendra kalah pamor dengan Gibran.

“Jadi elit-elit partai pendukung Prabowo yang mereka punya pengalaman mentereng, itu lewat semua dengan nama besar Gibran,” ungkap Adi.

Senada, Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs Ahmad Khoirul Umam menilai, pencawapresan Gibran bisa memicu ketegangan antara pihak Prabowo dengan PDIP yang lagi-lagi akan merasa dikhianati, dilangkahi, dan diabaikan oleh keluarga Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Jika Gibran menjadi cawapres Prabowo, besar kemungkinan PDIP akan melakukan evaluasi total terhadap status relasi dan keanggotaan Gibran, Bobby, dan juga Jokowi sendiri di PDIP,” ujar Ahmad di Jakarta, Kamis, 12/10.

Menurut Ahmad, pencalonan Gibran sebagai cawapres juga bakal dianggap sebagai perwujudan nyata akan ambisi besar Jokowi yang haus kekuasaan. Ini dapat dianggap sebagai kelanjutan dari upaya politik untuk menciptakan masa jabatan presiden selama tiga periode, penundaan Pemilu, serta memperkuat posisi anak-anaknya dalam arena politik nasional yang berkuasa.

“Bahkan, narasi politik dinasti yang merujuk pada pasangan Prabowo-Gibran itu bisa dijadikan sebagai wacana penyalahgunaan kekuasaan, yang dikait-kaitkan dengan potensi intervensi kekuasaan presiden terhadap yurisdiksi MK. Jika PDIP tersulut, lalu berkoordinasi dengan partai-partai koalisi perubahan yang menjadi rival kekuasaan saat ini, maka tidak menutup kemungkinan hal ini bisa membuka peluang bagi munculnya proses impeachment terhadap kekuasaan Presiden Jokowi,” kata Ahmad.

Ahmad juga menilai, Prabowo-Gibran berpotensi menyatukan semua lawan politik Jokowi, termasuk PDIP, untuk secara terbuka menantang pemerintahan Jokowi dengan mencoba mengalahkan Prabowo-Gibran.*