Survei Indo Riset: Elektabilitas Anies Naik, Prabowo Turun

Anies-Cak Imin foto bersama jajaran pengurus PKS di kantor DPP PKS, Jakarta Selatan, Jumat 15/9/2023.
Anies-Cak Imin foto bersama jajaran pengurus PKS di kantor DPP PKS, Jakarta Selatan, Jumat 15/9/2023 | Charlie Adolf Lumban Tobing/forumkeadilan.com

FORUM KEADILANSurvei Nasional yang dilakukan oleh Indo Riset pada periode 11-18 September 2023 mengungkap perubahan elektabilitas calon presiden (capres) 2024.

Dalam survei tersebut, terlihat adanya kenaikan, penurunan, dan stagnasi elektabilitas dari ketiga capres utama, yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo.

Bacaan Lainnya

Anies mengalami kenaikan elektabilitas dari 22 persen pada Agustus 2023 menjadi 25,2 persen di September 2023. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo mengalami penurunan dari 38,3 persen pada Agustus 2023 menjadi 34,3 persen pada September 2023.

Sedangkan elektabilitas Ganjar mengalami stagnasi, dengan angka 34,4 persen pada September 2023, sebelumnya 34,3 persen pada Agustus 2023.

Kenaikan elektabilitas Anies dapat dijelaskan oleh beberapa faktor. Pertama, efek dari deklarasi pasangan cawapres Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dan bergabungnya PKB ke dalam koalisi.

Kedua, terjadi peningkatan dukungan pemilih di beberapa wilayah, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah-DIY, dibandingkan dengan survei bulan sebelumnya. Faktor ketiga adalah dukungan yang semakin besar dari pemilih partai-partai koalisi, termasuk NasDem, PKS, dan PKB.

Sementara itu, penurunan elektabilitas Prabowo dapat ditarik dari penurunan dukungan di provinsi-provinsi yang sebelumnya menjadi basis suara Prabowo, terutama di Sumatra dan Jawa Barat. Penurunan ini juga dapat dianalisis dari absennya sinyal dukungan yang jelas dari Presiden Joko Widodo.

Ganjar, di sisi lain, mengalami stagnasi elektabilitas. Meskipun beberapa provinsi mengalami penurunan dukungan, seperti Bali-Nusra dan Jawa Tengah, namun terjadi peningkatan di provinsi lain, seperti Jakarta-Banten dan Jawa Barat. Stagnasi ini juga dapat dianalisis dari kesulitan PDIP dalam mencari calon wakil presiden.*