Mengenal FOMO dan JOMO: Dua Psikologi yang Bersebrangan

Ilustrasi ekspresi palsu
Ilustrasi ekspresi palsu | ist

FORUM KEADILAN Fear of Missing Out (FOMO) dan Joy of Missing Out (JOMO) ialah dua konsep yang sering dibahas dalam konteks kekhawatiran dan kesejahteraan psikologis.

FOMO dapat memengaruhi banyak orang untuk bersaing dalam mempertunjukkan sesuatu, seperti tren dan hal lainnya tanpa disadari. Sedangkan JOMO, mungkin jarang terdengar.

Simak perbedan FOMO dan JOMO berikut ini.

FOMO vs JOMO

FOMO atau Fear of Missing Out adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang sering menghubungkan semua aktivitasnya dengan akun media sosial mereka. Mereka kadang-kadang membandingkan diri mereka dengan orang lain di media sosial, dan jika dibiarkan berlarut-larut, dapat menyebabkan depresi, stres, dan kecemasan yang berlebihan.

FOMO dapat memicu perasaan kesepian, isolasi, dan berdampak negatif pada suasana hati. Perasaan FOMO ini muncul karena kesalahan dalam sudut pandang manusia.

JOMO atau Joy of Missing Out adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang lebih fokus pada kegiatan nyatanya tanpa merasa perlu terikat dengan media sosial atau mengikuti apa yang dianggap penting oleh orang lain.

JOMO diartikan sebagai perasaan kepuasan diri, di mana seseorang merasa puas dengan hidupnya. Ini berarti bahwa mereka bebas untuk fokus pada hal-hal yang mereka nikmati. JOMO juga mencerminkan cara seseorang menjalani hidup dengan tenang, tanpa rasa takut melewatkan kesenangan bersama orang lain.

Mengapa Media Sosial Berdampak pada Pribadi Seseorang Menjadi FOMO?

Banyaknya anak muda yang sering membagikan seluruh kegiatan mereka di media sosial telah mengakibatkan hilangnya privasi pribadi. Hal ini disebabkan oleh dampak besar yang telah dihasilkan oleh media sosial terhadap kesehatan mental, khususnya di kalangan remaja.

Dampak ini sering kali menghasilkan perasaan stres setelah melihat akun media sosial orang lain. Orang yang mengalami FOMO sering kali memiliki kecenderungan tertentu, seperti tergantung pada pujian yang mereka terima di media sosial dan menggunakan platform tersebut sebagai penilaian terhadap kehidupan mereka.

Cara Mengatasi FOMO dengan Menerapkan JOMO

Perasaan FOMO muncul dari kekeliruan cara pandang, itu sebabnya muncul JOMO. Kegembiraan karena terbebas dari rasa cemas dan berpengaruh positif pada kesehatan mental.

Bagi Anda yang mungkin sudah mengalami gejala FOMO, sebaiknya mulai mencoba penerapan JOMO secara bertahap. Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan.

  • Menjadikan Mindset yang Dilihat di Media Sosial Bukan Tolak Ukur Kehidupan

Apa yang kita lihat pada media sosial, seperti halnya postingan orang lain tidak selalu menjelaskan kehidupan mereka secara menyeluruh. Orang akan menunjukkan sisi terbaik dalam hidup untuk media sosialnya. Maka penting untuk memiliki rasa untuk tidak membandingan kehidupan kita dengan orang lain.

  • Nikmati Waktu Kehidupan Nyata dan Fokus pada Tujuan

Sering kali terlalu bersenang-senang dengan kehidupan di media sosial dan lupa akan kehidupan nyata, seperti kehidupan pribadi dan karier. Oleh karena itu, penting unntuk memfokuskan diri pada tujuan hidup.

  • Bersyukur Apa yang Telah Dimiliki

Sering terlalu fokus pada kekurangan diri sendiri dan melupakan kelebihan yang kita punya. Tak selalu soal pencapaian besar, namun juga menghargai pencapaian kecil yang telah diraih. Itu mengapa penting untuk bersyukur dengan segala hal baik yang ada pada diri kita.

FOMO atau JOMO tidak sepenuhnya positif dan negatif, karena keduanya adalah bagian dari pengalaman manusia.*

Laporan Sukma Cempaka