Pentingnya Pemahamam Antara Orang Tua dan Anak dari Kasus Pembunuhan Bos Kardus

Ilustrasi Pembunuhan
Ilustrasi Pembunuhan/ist

FORUM KEADILAN – Anak pengusaha kardus merampas nyawa orang tuanya. Pemahaman orang tua terhadap anak jadi pembelajaran penting.

Rifki Azis Ramadan (23) tega menusuk ibu kandungnya hingga tewas. Tak hanya itu, ia juga melukai ayahnya dengan sebilah golok.

Bacaan Lainnya

Peristiwa miris ini terjadi di rumah mereka, di Depok, Jawa Barat, Kamis, 10/8/2023. Kepada polisi Rifki mengaku sakit hati lantaran sejak kecil ia sering dimarahi oleh orang tuanya.

Ketika ia dituding menggelapkan uang usaha kardus yang dikelola keluarganya, amarah Rifki tak terbendung dan membunuh orang tuanya.

Pengamat Sosial Universitas Negeri Medan (UNIMED) Dr Bakhrul Khair Amal memandang, kasus Rifki terjadi akibat tidak tepatnya pemahaman antara orang tua dan anak. Ketidakpahaman itu menciptakan efek domino yang membuat kejiwaan anak terganggu.

“Kalau memang fakta di lapangan ternyata orang tua sering memarahinya, tentu si anak kekecewa,” ujar Bakhrul kepada Forum Keadilan.

Ketika kekecewaan itu terjadi berulang-ulang, dan tidak bertemu dengan solusi, maka timbul rasa sakit hati dan dendam.

“Lalu, ia melakukan tindakan seolah-olah pembunuhan itu adalah solusi,” ungkapnya.

Menurut Bakhrul, dominasi orang tua terhadap anak juga bisa membuat anak jadi jenuh. Harapan orang tua yang tidak sama dengan kenyataan anak, dapat menimbulkan konflik.

Untuk itu, Bakhrul menyarankan para orang tua agar melihat seperti apa psikologis dan sosiologis anak. Bukan memarahi anak, tetapi memberikan solusi bagi anak. Sebab, setiap permasalahan pasti ada solusinya.

Psikolog dan Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Dr Arijani Lasmawati juga sependapat. Menurutnya, aksi Rifki kemungkinan terjadi karena adanya penumpukan amarah.

Arijani menjelaskan, kultur di Indonesia tidak mengizinkan anak untuk melawan orang tua. Selain itu, relasi kuasa anak dalam keluarga adalah yang terbawah.

Dalam relasi kuasa itu, ketika seorang anak mendapati perlakuan yang menurutnya tidak berkeadilan, sangat wajar ada ‘kemarahan yang menumpuk’ di sana.

Arijani memandang, pada dasarnya setiap anak itu unik. Mereka berbeda model antara satu dengan yang lainnya.

Tetapi, orang tua punya ekspektasi tertentu terhadap anaknya. Seperti harus pandai dalam bidang akademik, atau harus punya kemampuan tertentu.

“Ketika ekspektasi orang tua tak terpenuhi. terkadang dalam proses perkembangannya akan menjadi bibit konflik antara orang tua dan anak,” ujar Arijani kepada Forum Keadilan.

Apabila konflik tersebut tidak tertangani, kondisinya akan semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Orang tua akan melihat anaknya sebagai anak yang tidak cakap.

“Ketidakcakapan itu kemudian dipandang sebagai akibat dari kurangnya motivasi, atau kurang bersungguh-sungguh. Padahal, dia memang potensinya tidak di sana. Anak ini mungkin punya keunggulan di bidang lain,” imbuhnya.

Ekspektasi pun berubah menjadi tekanan bagi anak. Mereka merasa takut tidak bisa memenuhi harapan orang tuanya.

“Kalau tekanan ini terjadi terus menerus, apalagi dibanding-bandingkan misalnya dengan anak tetangga, atau dengan saudara kandungnya, dengan relasi kuasa keluarga yang di bawah, anak itu tidak berani melawan. Akhirnya dia banyak memendam,” ungkapnya.

Seperti dalam kasusnya Rifki, emosi marah yang dipendam itu yang dikhawatirkan menjadi agresi.

“Pada saat dia mengalami tekanan emosi yang tidak bisa ia toleransi dan kemudian meledak, perilaku yang muncul adalah ia membunuh. Pemicunya, dia dituduh menggelapkan uang,” pungkasnya.*

LaporanĀ Charlie Adolf Lumban Tobing