Minggu, 31 Agustus 2025
Menu

Indonesia Gabung BRICS, Untung Tapi Rawan Krisis!

Redaksi
BRICS | Ist
BRICS | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Bergabungnya Indonesia ke kelompok BRICS memang membuka peluang besar di sektor keuangan, tapi ternyata juga menjadikan pasar Indonesia makin rentan terhadap krisis global. Hal ini jadi sorotan utama Makmur Sianipar saat menyampaikan disertasi dalam sidang terbuka promosi doktor di Universitas Pakuan, Bogor, Senin (28/7/2025).

Makmur Sianipar menyampaikan bahwa hasil penelitiannya menunjukkan adanya integrasi signifikan antara pasar uang dan pasar modal Indonesia dengan negara-negara BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan. Data yang digunakan berasal dari data harian Juni 2023 sampai Mei 2025 dan dianalisis dengan Vector Error Correction Models (VECM).

“Dengan masuknya Indonesia ke BRICS, investor dari negara anggota masuk ke pasar kita dan menciptakan likuiditas tinggi. Transaksi makin efisien dan mendorong inovasi keuangan lokal,” kata Makmur Sianipar di hadapan para guru besar penguji.

Menurutnya, BRICS bukan cuma peluang, tapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak diantisipasi. “Kalau salah satu negara BRICS kena krisis, efeknya bisa langsung ke Indonesia. Ini yang disebut contagion effect,” ujarnya.

Makmur Sianipar juga menyoroti potensi capital flight, yaitu keluarnya dana asing secara besar-besaran saat kondisi ekonomi dalam negeri memburuk. Ditambah lagi, beda sistem hukum dan regulasi antarnegara BRICS bisa menimbulkan kebingungan dan menurunkan kepercayaan investor.

Ia memperingatkan, pemain lokal bisa kalah bersaing kalau tidak cepat berbenah. “Lembaga keuangan asing dari BRICS sudah lebih mapan. Kita harus bisa adaptif dan efisien supaya tidak tertinggal,” tegasnya.

Dari sisi teori, hasil penelitiannya memperkuat model-model klasik seperti flow-oriented model (Dornbusch & Fisher) yang menyoroti pengaruh nilai tukar ke pasar saham, dan stock-oriented model (Branson & Frankel) yang menjelaskan hubungan antara saham dan nilai tukar.

Sidang terbuka ini dipimpin oleh Prof. Dr. Didik Notosudjono, Rektor Universitas Pakuan dan Guru Besar Ilmu Manajemen. Makmur Sianipar dipromotori oleh Prof. Dr. Yohanes Indrayono, serta kopromotor Dr. Hendro Sasongko, Ak., M.M., CA.

Dewan penguji terdiri dari Prof. Dr. Soewarto Hardhienata, (Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan), Prof. Dr. Hari Gursida, (Ketua Program Doktor Ilmu Manajemen), dan Prof. Dr. Moermahadi Soerja Djanegara dari Institut Bisnis dan Teknologi Kesatuan sebagai penguji eksternal.

Makmur Sianipar dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, dan menjadi doktor ke-73 yang diluluskan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan. Ia mengingatkan agar para pembuat kebijakan dan pelaku pasar lebih waspada terhadap dinamika pasar BRICS agar integrasi ini tidak menjadi boomerang di masa depan.*