Airlangga Ungkap Skenario Terburuk, Harga Minyak Tinggi-Defisit APBN Melampaui 3 Persen
FORUM KEADILAN – Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa sejumlah skenario dampak kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap defisit APBN 2026, di tengah memanasnya perang di Iran.
Skenario terburuk dapat menimbulkan defisit lebih dari 3 persen.
Dalam asumsi makro APBN 2026, Indonesia Crude Price (ICP) ditetapkan USD70 per barel dan kurs rupiah Rp16.500 per dolar AS. Airlangga mengatakan bahwa perbedaan harga Brent dengan ICP sekitar USD3.
Pada Kamis, 12/3/2026, minyak mentah Brent ditutup pada level USD100,46 per barel, naik USD8,48 atau 9,2 persen. Hal tersebut disebabkan langkah retaliasi Iran yang menyerang fasilitas minyak dan transportasi di seluruh Timur Tengah, hingga menutup Selat Hormuz.
Airlangga mengatakan ada tiga skenario yang disiapkan pemerintah, yaitu bila konflik di Timur Tengah berlangsung selama 5 bulan, 6 bulan, dan 10 bulan. Prediksinya, harga minyak mentah mencapai USD107 per barel pada 6 bulan, lalu tembus USD130 per barel pada bulan ke-10, dan turun jadi USD125 per barel pada akhir Desember.
Di samping itu, realisasi harga minyak mentah Indonesia sepanjang Januari sampai Februari 2026 berada di rata-rata USD64,41 dan USD68,79 per barel, sehingga masih di bawah USD70 per barel.
“Kalau kita buat skenario yang tadi 5 bulan itu kita rata-rata menjadi USD90 per barel. Kemudian yang 6 bulan USD97, dan 10 bulan USD115 Pak Presiden,” ungkap Airlangga saat Sidang Kabinet Paripurna, Jumat, 13/3/2026.
Skenario pertama, lanjutnya, dampaknya kepada beban APBN yaitu bila ICP menembus USD86 per barel dan kurs Rp17.000 per doar AS, defisit APBN dapat mencapai 3,18 persen.
“Jadi ini yang kita pertahankan growth di 5,3. Surat Berharga Negara angkanya lebih tinggi Pak 6,8 persen, maka defisitnya adalah 3,18 persen,” jelasnya.
Lalu, skenario moderat kedua, bila ICP tembus USD97 per barel, kurs mencapai Rp17,300 per dolar AS, dengan prediksi pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, maka defisit APBN dapat menembus 3,53 persen.
“Kemudian kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga (ICP) USD115, kurs rupiah kita Rp 17.500, growth-nya 5,2, surat berharganya 7,2 persen, defisitnya 4,06 persen,” tuturnya.
Ia menilai bahwa skenario moderat pertama sangat sulit dicapai bila pemerintah tidak memotong belanja negara dan memangkas target pertumbuhan.
“Jadi artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan Pak Presiden,” tegasnya.
Airlangga menjelaskan kenaikan harga minyak mentah beberapa kali terjadi ketika situasi krisis global. Dalam 25 tahun terakhir, harga minyak tertinggi mencapai USD139 per barel pada Juni 2008 saat krisis subprime mortgage di AS.
Lalu pada 2011, harga minyak menembus USD125 per barel saat konflik Arab Spring. Lalu, ketika perang Rusia-Ukraina harga minyak juga sempat menyentuh USD110 per barel, lalu turun ke USD78 per barel pada September 2022.
“Nah kali ini, cadangan relatif Amerika aman dan mereka punya cadangan nasional mereka, belum strategic petroleum reserve-nya dari berbagai negara itu belum ada yang dikeluarkan,” pungkasnya. *
