Presiden Sebut Sawit Ajaib, PDI Perjuangan Justru Nilai sebagai Pohon Arogan
FORUM KEADILAN – Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan Bidang Ideologi dan Kaderisasi Djarot Saiful Hidayat, menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut sawit sebagai tanaman ajaib sekaligus wacana penanaman sawit secara luas.
Menurut Djarot, tanaman sawit memang memiliki banyak manfaat, namun tidak bisa serta-merta ditanam di semua jenis lahan karena karakter tanamannya yang dinilai arogan.
“Memang sawit ini manfaatnya banyak banget. Persoalannya, apakah karena sawit itu manfaatnya luar biasa, kemudian kita akan menanam sawit di semua lahan kita? Kan tidak,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 3/2/2026.
Menurutnya, sawit memiliki karakter tanaman yang tidak memungkinkan tumbuhan lain hidup berdampingan di sekitarnya.
“Sawit itu juga punya karakter tanaman yang ‘arogan’. Dia tidak membiarkan tanaman lain bisa tumbuh berdampingan dengan sawit,” ujarnya.
Djarot menegaskan, sawit hanya dapat ditanam di lahan-lahan tertentu dan tidak cocok untuk lahan kritis maupun wilayah lereng.
Selain itu, Djarot menilai, pemerintah perlu melakukan kajian mendalam terkait kebijakan penanaman sawit ke depan, termasuk opsi moratorium atau justru penguatan secara masif.
“Perlu kajian mendalam apakah kita perlu moratorium penanaman sawit atau justru memperkuatnya secara masif. Itu saja pilihannya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah berkaca pada bencana yang terjadi di Sumatra beberapa waktu lalu, yang salah satunya disebabkan alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sawit dan pertambangan.
“Kita harus mengaca pada bencana di Sumatra kemarin yang salah satunya disebabkan alih fungsi lahan dari hutan menjadi sawit dan pertambangan. Ini harus dihitung betul,” katanya.
Meski demikian, Djarot mengakui bahwa sawit tetap merupakan komoditas yang memiliki banyak manfaat dan nilai ekonomi.
Namun, ia menegaskan seperti dalam hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PDI Perjuangan, partai berlambang banteng itu menekankan pentingnya prinsip keadilan ekologis.
“Kita harus jaga, kita harus rawat alam semesta kita, ekologi kita supaya tidak rusak. Kita harus kembangkan penghijauan kembali dengan berbagai macam tanaman yang kita miliki, bukan hanya sawit,” pungkasnya.*
Laporan oleh: Novia Suhari
