Kasus Guru SMK Jambi Dikeroyok Siswa, Komisi X DPR Minta Ditjen Vokasi Turun Tangan
FORUM KEADILAN – Ketua Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar Hetifah Sjaifudian menegaskan, pihaknya tengah meminta Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikdasmen untuk berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menyusul kasus pengeroyokan terhadap seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra, yang videonya viral di media sosial.
Hetifah mengatakan, langkah tersebut merupakan bentuk tindak lanjut sekaligus pemantauan Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan terhadap peristiwa kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut.
“Kami sedang meminta Ditjen Vokasi untuk berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi setempat untuk memantau dan mendalami situasi,” katanya kepada Forum Keadilan, Minggu, 18/1/2026.
Ia juga menyatakan, Komisi X DPR RI mengecam keras segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Menurutnya, kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan, baik yang dilakukan oleh pendidik maupun peserta didik.
Meski begitu, Hetifah menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam penanganan kasus tersebut dengan melakukan penyelidikan dan klarifikasi fakta secara utuh dan objektif. Ia menilai, proses penanganan harus dilakukan secara adil dan proporsional.
“Penanganan kasus ini harus menjamin perlindungan bagi guru, pembinaan bagi peserta didik, serta penguatan pendidikan karakter dan kewibawaan sekolah agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hetifah memandang peristiwa ini sebagai cerminan persoalan yang lebih mendasar dalam sistem pendidikan nasional, khususnya melemahnya pendidikan karakter dan nilai penghormatan terhadap guru.
Ia menekankan pentingnya penguatan peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial dalam membentuk sikap dan perilaku peserta didik.
Oleh karena itu, Komisi X DPR RI, kata Hetifah, akan terus mendorong penguatan pendidikan karakter, perlindungan hukum bagi guru, serta penciptaan iklim sekolah yang aman, berdisiplin, dan bermartabat.*
Laporan oleh: Novia Suhari
