Sabtu, 29 November 2025
Menu

Aceh Darurat Banjir, Listrik Padam, Ribuan Warga Mengungsi

Redaksi
Situasi Banjir di Aceh | Selamat Ginting
Situasi Banjir di Aceh | Dok. Selamat Ginting
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Aceh sejak Kamis, 27/11/2025 hingga Jumat, 28/11/2025 menyebabkan banjir besar yang merendam sejumlah daerah dari Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, hingga Pidie Jaya. Pemerintah Provinsi Aceh menetapkan status darurat bencana banjir sejak pagi hari setelah laporan kerusakan dan jumlah pengungsi terus meningkat.

Jalan Terputus dan Listrik Padam

Sejak pukul 06.00 WIB, debit air di kawasan Krueng Aceh meningkat tajam. Di Banda Aceh, beberapa titik di Kecamatan Meuraxa, Lueng Bata, dan Kuta Alam terendam hingga 80 cm. Arus listrik di sebagian kawasan kota dipadamkan untuk menghindari korsleting.

Di Aceh Besar, banjir memutus akses jalan di kawasan Lambaro–Indrapuri, menghambat masyarakat yang hendak menuju pusat kota. Warga yang tinggal dekat bantaran sungai dievakuasi menggunakan perahu karet.

Ribuan Pengungsi di Pidie dan Pidie Jaya

Menjelang siang, banjir semakin meluas ke wilayah Pidie dan Pidie Jaya. Di Pidie, air dari Krueng Baro meluap dan merendam kawasan Sigli, membuat ratusan rumah terendam hingga satu meter. Pemerintah kabupaten membuka posko darurat di Gedung PCC Sigli.

Di Pidie Jaya, curah hujan tinggi menyebabkan banjir bandang di Kecamatan Meureudu dan Ulim. Tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengevakuasi warga yang terjebak di rumah panggung yang hampir terendam seluruhnya. BPBD Aceh mencatat lebih dari 9.500 warga mengungsi hingga pukul 14.00 WIB.

Padamnya listrik berkepanjangan membuat banyak layanan perkantoran lumpuh. Rumah sakit menggunakan genset darurat. Lalu lintas di Banda Aceh melambat karena jalan-jalan protokol tergenang. Di beberapa titik, warga menunggu bantuan logistik.

Mengenang Luka Lama

Di tengah kondisi darurat bencana, Kamis, 27/11 meliput ke Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh.  Sebagian warga dan relawan menyempatkan diri berkunjung ke museum tersebut. Kunjungan itu dilakukan bukan semata untuk wisata, tetapi untuk mengenang tragedi tsunami 26 Desember 2004, serta mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.

Di dalam “Lorong Kehidupan,” suara gemuruh air dan cahaya redup membawa kembali memori gelap bencana 21 tahun lalu. Beberapa pengunjung termasuk dari Malaysia, Bandung, dan Jakarta menyimak penjelasan dari pemandu museum. Di antara pengunjung antara lain mahasiswa program studi hubungan internasional Universitas Pasundan (UNPAS), Bandung, Danishara Nurul Husna (23) dan siswa SMPIT Nur Hikmah Kota Bekasi, Nes Abyana K Ginting (12).

“Kondisi darurat banjir mengingatkan Aceh harus selalu siap dengan bencana,” ujar Danishara yang datang bersama keluarga mengunjungi museum.

Hujan Mulai Mereda, Warga Masih di Pengungsian

Hingga Jumat malam hari, hujan mulai mereda, namun ketinggian air belum banyak surut. Petugas memprioritaskan pengiriman makanan, selimut, dan obat-obatan ke posko-posko.

Petugas PLN masih berupaya memulihkan jaringan listrik yang padam sejak pagi. Pihak berwenang mengimbau warga untuk tetap waspada mengingat curah hujan di wilayah hulu masih tinggi.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyatakan bahwa semua kabupaten terdampak akan mendapatkan bantuan segera.

“Keselamatan warga adalah prioritas,” ujarnya dalam konferensi pers Jumat malam hari.*

 

Laporan oleh: Selamat Ginting