Kamis, 05 Maret 2026
Menu

Mendikdasmen: Pengajuan Anggaran Belanja Tambahan Pendidikan Bukan untuk MBG

Redaksi
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) | Dok Badan Gizi Nasional
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) | Dok Badan Gizi Nasional
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Pengajuan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) sebesar Rp181 triliun ke DPR RI tidak digunakan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.

“Pengajuan ABT Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) ini bukan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami sudah paparan di DPR soal ABT ini dan saat ini sedang dalam posisi menunggu keputusan,” ungkap Abdul Mu’ti lewat keterangan resminya dari Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta, Rabu, 4/3/2026.

Mu’ti menjelaskan hal tersebut setelah melaksanakan Rapat Koordinasi Penyelenggaraan Program MBG di Semarang Jawa Tengah, pada Selasa, 3/3. Mu’ti mengatakan bahwa ABT merupakan permintaan alokasi tambahan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun berjalan yang sifatnya mendesak.

Walaupun begitu, MBG adalah bagian yang tidak terpisahkan dari program Kemendikdasmen. Terlebih lagi, yang ada kaitannya dengan Tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat, yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, rajin belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

Menurut Abdul Mu’ti, MBG juga bagian program pendidikan karakter yang merupakan program prioritas nasional. Program ini terdiri atas penanaman nilai spiritual, sosial, tertib, disiplin, bertanggung jawab, kepemimpinan, budaya bersih, tata krama, dan lain-lain.

“Jadi, MBG memiliki kaitan yang sangat langsung dengan program Kemendikdasmen,” tutur Mu’ti.

Di sisi lain, menurut laporan terakhir dari Sekretariat Jenderal Kemendikdasmen, saat ini penerima MBG sudah sejumlah 49.614.433 siswa dari total 53.394.088 siswa sekolah atau 93 persen dari total siswa di seluruh Indonesia. Sementara itu, yang belum menerima manfaat adalah sebanyak 3.780.445 siswa.

Kemudian, yang telah menerima manfaat MBG sudah mencapai 288.845 sekolah dari total 434.812 satuan pendidikan atau sekitar 66,5 persen dari seluruh Indonesia.

“Jadi, capaiannya sudah sangat tinggi,” katanya.

Selain itu, Kemendikdasmen mendapatkan temuan terkait kontribusi Program MBG terhadap pendidikan karakter dan motivasi belajar siswa. Kerja sama Kemendikdasmen dengan Lab Sosio Universitas Indonesia menemukan bahwa Program MBG membantu murid untuk mendapatkan pangan bergizi, terkhusus bagi kelompok yang sosial-ekonominya rendah.

Lalu, MBG juga memberikan pengalaman menyenangkan dari produk ataupun makan bersama dan juga lebih semangat belajar. Ragam menu juga sangat disukai dan manfaatnya pun dirasakan oleh siswa.

“Oleh karena itu, program ini diharapkan berkelanjutan dan ditingkatkan kualitasnya” ujarnya.

Di sisi lain, program pertama yang diajukan Mendikdasmen untuk ABT ini adalah anggaran untuk program revitalisasi 20 ribu satuan pendidikan. Sebab, saat ini masih banyak satuan pendidikan yang kondisinya rusak dan memprihatinkan.

Program berikutnya, yaitu digitalisasi Pendidikan. Setiap satuan pendidikan bakal memperoleh tambahan alokasi Interactive Flat Panel (IFP) atau Panel Interaktif Digital (PID). Pada 2026 ini, rencananya Kemendikdasmen bakal mendistribusikan IFP tersebut untuk lebih dari 325 ribu satuan pendidikan.

Kemudian, program lainnya yang disetujui oleh DPR, yaitu program beasiswa untuk guru yang belum memperoleh jenjang pendidikan Diploma 4 (D4) atau Strata 1 (S1) sebesar Rp3 juta per semester.

Selain itu, dalam usulan ABT yang sudah diajukan oleh Kemendikdasmen ke DPR, guru honorer pun mendapatkan perhatian dari pemerintah. Guru honorer bakal memperoleh tambahan insentif dari Rp30 ribu, menjadi Rp400 ribu.*