Pengamat: Mimpi Kaesang dan Ilusi Kandang Gajah Jawa Tengah
FORUM KEADILAN – Pengamat politik dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang Abdul Hakim menilai, pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep yang ingin menjadikan Jawa Tengah sebagai “kandang gajah” tidak bisa dipahami sekadar sebagai slogan kampanye biasa.
Menurut Abdul Hakim, pernyataan tersebut merupakan ekspresi ambisi politik yang sarat pretensi dan membuka persoalan struktural yang lebih dalam dalam peta kekuasaan nasional.
“Dalam bahasa ilmu politik, klaim semacam ini mencerminkan hasrat melakukan territorial capture, yakni upaya menjadikan satu wilayah dengan tradisi politik mapan sebagai basis kekuasaan baru bagi partai yang secara nasional masih rapuh, baik secara elektoral maupun institusional,” ujar Abdul Hakim kepada Forum Keadilan, Minggu, 18/11/2025.
Ia menjelaskan, menyebut Jawa Tengah sebagai “kandang gajah” mengandaikan bahwa kekuatan simbolik, nama besar keluarga Presiden ke- 7 RI Joko Widodo (Jokowi), serta popularitas warisan politik cukup untuk menaklukkan ekosistem politik lokal yang telah mengeras oleh sejarah panjang patronase, organisasi massa, dan habitus politik yang mengakar hingga tingkat desa.
“Di titik ini, ambisi tersebut bergeser dari optimisme strategis menjadi eksperimen berisiko tinggi. Sebuah pertaruhan antara keberanian dan salah baca peta kekuasaan,” kata dia.
Abdul Hakim menegaskan, Jawa Tengah bukanlah ruang kosong yang menunggu diisi oleh simbol, baliho, dan energi personal seorang tokoh.
Provinsi tersebut, menurutnya, merupakan jantung historis nasionalisme elektoral Indonesia dan basis kuat partai-partai mapan yang telah membangun jaringan ideologis, kultural, dan organisatoris selama puluhan tahun.
“Di Jawa Tengah, loyalitas politik tidak dibentuk dalam semalam, dan legitimasi tidak diperoleh hanya dari kedekatan dengan pusat kekuasaan nasional,” ujarnya.
Abdul Hakim menilai, pasca perubahan kepemimpinan, PSI justru kehilangan keunggulan awalnya berupa diferensiasi ideologis. Agenda progresif yang dahulu menjadi identitas partai dinilai tergantikan oleh satu simbol dominan, yakni Jokowisme.
“Masalahnya, Jokowisme bukan ideologi. Ia tidak memiliki teori sosial, kerangka kebijakan, atau identitas kolektif yang tahan lama. Ia adalah floating signifier, simbol cair yang bisa diisi sesuai kebutuhan kekuasaan,” katanya.
Dalam sistem kepartaian, lanjut Abdul Hakim, partai yang bertumpu pada simbol personal cenderung rapuh. Ketika figur pusat melemah atau pergi, partai kehilangan orientasi.
“Baliho di mana-mana bukan tanda kekuatan partai, melainkan tanda kekuatan sponsor. Partai kuat mampu memobilisasi tanpa baliho; partai lemah menutupi kekosongan struktur dengan visual,” tandasnya.
Ia juga menyinggung alasan Jokowi tidak memegang kendali formal atas PSI. Menurut Abdul Hakim, hal itu justru mencerminkan strategi kekuasaan informal. Dalam teori politik, posisi yang tidak terlihat sering kali memberi fleksibilitas paling besar dan risiko paling kecil.
“Ini bukan ketidaktegasan, melainkan strategi aktor berpengalaman yang memahami batas formalitas,” ujar dia.
Menanggapi peluang PSI menguasai Jawa Tengah pada 2029, Abdul Hakim menolak spekulasi sensasional. Namun ia menegaskan, tanpa basis sosial organik dan kemandirian dari oligarki, PSI berpotensi tetap menjadi partai satelit.
“Dalam politik Indonesia, yang bertahan bukan yang paling benar, melainkan yang paling adaptif. Lagi pula Jawa Tengah bukan kandang kosong. Ia adalah kandang banteng. Dan sejarah jarang ramah pada pendatang yang terlalu percaya diri.” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menargetkan agar Jawa Tengah menjadi kandang gajah di Pemilu 2029. Hal itu disampaikan Kaesang dalam Rakorwil PSI Jateng, Kamis, 8/1.
Kaesang menyebut, PSI berhasil meraih 12 kursi di Jateng pada Pemilu 2024. Rinciannya yaitu lima kursi DPRD Kota Solo, lima kursi DPRD Kota Semarang, dua kursi DPRD Jateng. Meski begitu, Kaesang mengaku belum puas.
“2029, pemilu selanjutnya, Jawa Tengah, (jadi) Kandang Gajah!,” cetusnya.*
Laporan oleh: Muhammad Reza
