Jumat, 16 Januari 2026
Menu

Survei HAI: Kepercayaan Publik terhadap Polri Capai 78,3 Persen

Redaksi
Launching Media & Dialog Publik: "Pengawasan Peran Media dan Lembaga negara dalam Digitalisasi Informasi dan Kreator Konten", Mampang, Jakarta Selatan, Jumat, 16/1/2026 | Muhammad Reza/Forum Keadilan
Launching Media & Dialog Publik: "Pengawasan Peran Media dan Lembaga negara dalam Digitalisasi Informasi dan Kreator Konten", Mampang, Jakarta Selatan, Jumat, 16/1/2026 | Muhammad Reza/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Hasil survei terbaru Haidar Alwi Institute (HAI) mencatat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebesar 78,3 persen.

Capaian tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang relatif tinggi terhadap institusi Kepolisian. Dalam kajian institusional, kepercayaan di atas 70 persen menandakan masih kuatnya legitimasi sosial Polri di mata masyarakat.

Pendiri HAI Haidar Alwi mengatakan, hasil survei ini tidak terlepas dari persepsi publik terhadap kinerja Polri dalam beberapa waktu terakhir. Ia menegaskan, survei dilakukan dengan metodologi ilmiah dan tingkat keandalan yang tinggi.

“Kami mengadakan survei dengan margin of error yang relatif rendah. Alhamdulillah, Polri mencapai tingkat kepercayaan yang tinggi dalam hasil survei kami,” ujar Haidar Alwi di kawasan Mampang, Jakarta, Jumat, 16/1/2026.

Menurut dia, apresiasi publik selaras dengan pengalaman langsung masyarakat serta pemberitaan terkait kinerja Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui program Presisi.

Ia mencontohkan keterlibatan aktif Polri dalam penanganan bencana alam di sejumlah wilayah Sumatra, seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Masyarakat melihat langsung bagaimana polisi terlibat membantu korban banjir, tidak hanya melalui bantuan materi, tetapi juga kerja-kerja di lapangan seperti membersihkan lumpur hingga membangun jembatan darurat,” katanya.

Dalam survei tersebut, saat ditanya sejauh mana responden percaya kepada Polri; 56,1 persen menjawab “percaya”; dan 22,2 persen menjawab “sangat percaya”. Sementara 12,7 persen menyatakan “tidak percaya”; 5,4 persen “sangat tidak percaya”; dan 3,6 persen tidak memberikan jawaban.

Selain tingkat kepercayaan, survei ini juga mengukur persepsi publik terhadap sejumlah indikator kinerja Polri dengan skala 1–5. Indikator keamanan dan ketertiban memperoleh skor tertinggi dengan nilai rata-rata 3,97; disusul profesionalisme aparat 3,91; pelayanan publik 3,84; dan integritas 3,78. Sementara indikator keadilan dalam penegakan hukum mencatat skor terendah, yakni 3,69.

Haidar Alwi menilai, temuan tersebut menunjukkan persepsi publik terhadap peran Polri dalam menjaga stabilitas keamanan relatif kuat. Namun, ia mengingatkan bahwa aspek penegakan hukum dan integritas tetap menjadi tantangan ke depan.

“Tantangan Polri bukan hanya mempertahankan tingkat kepercayaan yang tinggi, tetapi juga menjawab ekspektasi masyarakat terhadap penegakan hukum yang adil, transparan, dan berintegritas,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil survei ini merupakan potret sesaat yang dipengaruhi oleh dinamika sosial dan pemberitaan. Oleh karena itu, keberlanjutan kepercayaan publik sangat bergantung pada konsistensi kinerja Polri di lapangan.

Sebagai informasi, Survei HAI dilaksanakan pada 3-10 Januari 2026 dengan melibatkan 1.500 responden berusia 17 tahun ke atas yang telah menikah. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan metode computer-assisted personal interview (CAPI) dengan teknik multistage random sampling.

Margin of error survei ini tercatat sebesar ±2,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Distribusi responden disusun secara proporsional berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Sebanyak 840 responden berasal dari Pulau Jawa, 327 dari Sumatra, 111 dari Sulawesi, 93 dari Kalimantan, 84 dari Bali dan Nusa Tenggara, serta 45 responden dari Maluku dan Papua. Dari sisi wilayah, responden perkotaan mencapai 56 persen, sedangkan pedesaan 44 persen.*

Laporan oleh: Muhammad Reza