Minggu, 11 Januari 2026
Menu

Laporan Diproses, Polda Metro Bakal Klarifikasi Pelapor soal Pelaporan Terhadap Pandji Pragiwaksono

Redaksi
Komika Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan bertajuk 'Mens Rea' | Netflix
Komika Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan bertajuk 'Mens Rea' | Netflix
Bagikan:

FORUM KEADILANPolda Metro Jaya memulai penyelidikan soal laporan terhadap komika Pandji Pragiwaksono terkait materi stand up comedy dalam gelaran ‘Mens Rea’. Polisi akan melakukan klarifikasi terlebih dahulu kepada para pelapor.

“Penyelidik dan penyidik akan melakukan undangan klarifikasi kepada pelapor,” ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto lewat keterangannya, Sabtu, 10/1/2026.

Polda Metro Jaya juga akan menganalisis barang bukti. Adapun beberapa barang bukti yang diserahkan oleh pelapor yaitu, diska lepas (flashdisk) berisi rekaman percakapan, dan tangkapan layar atau gambar.

“Dan ini kami akan lakukan analisis,” ujar dia.

Kemudian, Budi mengimbau kepada masyarakat supaya tidak bias dalam menyampaikan informasi. Dirinya pun menegaskan bahwa Polda Metro Jaya akan mengusut kasus ini secara profesional, proporsional, dan transparan.

“Dan ini kami akan lakukan analisis,” katanya.

Sebagai informasi, laporan terhadap Pandji dibuat pihak yang mengatasnamakan Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) bersama Aliansi Muda Muhammadiyah dan teregister dengan Nomor LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 8 Januari 2026.

Pelapor sekaligus Presidium Angkatan Muda NU, Rizki Abdul Rahman Wahid, mengatakan laporan dilayangkan karena materi komedi yang disampaikan Pandji dalam acara ‘Mens Rea’ dinilai menghina dan menimbulkan kegaduhan.

“Kami melaporkan bahwa ada kasus yang menurut kami beliau merendahkan, memfitnah, dan cenderung menimbulkan kegaduhan di ruang media,” kata Rizki kepada wartawan.

“Satu orang (yang dilaporkan), seniman stand up comedian yang belakangan ini sangat ramai diperbincangkan, inisial P,” tambahnya.

Ia menilai bahwa materi stand up comedy Pandji itu berpotensi memecah belah dan menimbulkan keresahan, khususnya di kalangan anak muda NU dan Muhammadiyah.

“Narasi fitnahnya adalah menganggap bahwa NU dan Muhammadiyah terlibat dalam politik praktis yang terus kemudian ini disampaikan seolah-olah NU dan Muhammadiyah mendapatkan tambang begitu karena imbalan begitu ya imbalan karena telah memberikan suaranya terhadap kontestasi pemilu yang kemarin,” jelasnya.*