Kamis, 08 Januari 2026
Menu

Pasca Maduro: Ujian Nyata Geopolitik Global dan Batas Perlawanan Rusia–Tiongkok Terhadap Amerika Serikat

Redaksi
Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam tahanan setelah turun dari pesawat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di New York | X @Complex
Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam tahanan setelah turun dari pesawat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di New York | X @Complex
Bagikan:

Selamat Ginting

 

Pengamat Politik dan Pertahanan Keamanan dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta

 

FORUM KEADILAN – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro—berdasarkan laporan dan klaim yang beredar sejak awal Januari 2026—menjadi salah satu peristiwa geopolitik paling mengguncang dalam satu dekade terakhir di Belahan Barat.

Jika dikonfirmasi sepenuhnya, peristiwa ini bukan hanya menandai runtuhnya satu rezim yang telah lama berkonfrontasi dengan Amerika Serikat (AS), melainkan juga membuka pertanyaan besar.

Sejauh mana Rusia dan Tiongkok benar-benar siap menantang dominasi AS di dunia multipolar yang kerap mereka gaungkan?

Selama bertahun-tahun, Venezuela diposisikan sebagai simbol perlawanan Global South terhadap hegemoni Barat.

Dukungan politik dari Moskow dan Beijing, aliran senjata, teknologi, dan pinjaman miliaran dolar, membentuk kesan bahwa Caracas tidak sendirian.

Namun, ketika pusat kekuasaan Venezuela dilaporkan lumpuh dan pemimpinnya menghilang dari panggung domestik, respons dua kekuatan besar non-Barat itu tampak jauh lebih terbatas daripada retorika yang selama ini digaungkan. Mengapa?

Venezuela Lebih dari Sekadar Minyak

Tak dapat dimungkiri, minyak adalah faktor utama dalam drama Venezuela. Dengan cadangan lebih dari 300 miliar barel—terbesar di dunia—Venezuela merupakan anomali geopolitik.

Kaya sumber daya, tetapi miskin stabilitas. Infrastruktur energi yang rusak akibat salah urus, korupsi, dan sanksi internasional membuat kekayaan tersebut justru menjadi beban politik.

Bagi Presiden AS Donald Trump, yang secara terbuka berpihak pada industri energi dan melihat politik luar negeri melalui kacamata transaksi ekonomi, Venezuela adalah “hadiah strategis” tahun baru 2026 yang terlalu besar untuk diabaikan.

Penguasaan kembali akses terhadap minyak Venezuela bukan hanya soal pasokan energi, tetapi juga soal menghapus pengaruh rival geopolitik di jantung Amerika Latin.

Namun, mereduksi konflik Venezuela semata sebagai perebutan minyak akan terlalu menyederhanakan persoalan. Di baliknya, bertaut kepentingan ideologi, kredibilitas hegemonik, dan persaingan kekuatan besar.

Amerika Serikat dan Konsolidasi “Halaman Belakang”

Dari perspektif Washington, Venezuela memiliki makna simbolik dan strategis. Keberhasilan menekan atau menjatuhkan rezim yang secara terbuka anti-AS di kawasan Karibia akan mengirim pesan kuat bahwa Doktrin Monroe versi modern masih berlaku. Amerika Latin tetap berada dalam orbit pengaruh AS.

Momentum ini menjadi semakin penting ketika Amerika Serikat harus membagi fokusnya antara Eropa Timur dan Indo-Pasifik.

Dengan menuntaskan “masalah Venezuela”, Washington dapat mengklaim kembali stabilitas di halaman belakangnya sekaligus melemahkan posisi Rusia dan Tiongkok di kawasan yang secara historis sensitif bagi AS.

Kepentingan Besar Tiongkok, Tapi Bukan Medan Tempur

Banyak pihak bertanya: mengapa Tiongkok, yang selama ini dianggap sekutu strategis Venezuela, tampak tidak melakukan perlawanan terbuka?

Jawabannya terletak pada sifat strategi global Beijing. Bagi Tiongkok, Venezuela adalah aset ekonomi dan politik, bukan kepentingan eksistensial.

Minyak Venezuela memang penting sebagai sumber energi alternatif—sekitar 4 persen impor minyak Tiongkok—dan jenis minyak Merey yang terkena sanksi Barat justru menguntungkan Beijing. Namun, Venezuela tetap bukan pilar utama keamanan energi Tiongkok.

Lebih jauh, Tiongkok cenderung berinvestasi pada negara, bukan rezim. Selama kontrak dihormati dan utang—yang diperkirakan mencapai 60–70 miliar dolar AS—dapat dinegosiasikan, Beijing relatif fleksibel terhadap perubahan kekuasaan.

Konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat demi mempertahankan satu pemimpin di Amerika Latin tidak sebanding dengan risiko global yang ditimbulkannya.

Bagi Beijing, pertarungan sejati ada di Taiwan, Laut Cina Selatan, dan teknologi strategis. Venezuela adalah front sekunder. Maka, respons Tiongkok yang paling realistis adalah kecaman diplomatik, manuver di forum internasional, dan negosiasi senyap dengan siapa pun yang berkuasa di Caracas kelak.

Ambisi Global, dan Realitas Keterbatasan Rusia

Jika Tiongkok berhitung secara ekonomi, Rusia berada dalam dilema geopolitik yang lebih tajam. Sejak era Hugo Chávez, Moskow menjadikan Venezuela sebagai simbol kehadiran Rusia di “halaman belakang” Amerika Serikat.

Penjualan senjata, kerja sama militer, dan dukungan diplomatik membentuk narasi bahwa Rusia siap menantang AS di mana pun. Namun simbol berbeda dengan kepentingan vital.

Venezuela penting bagi Rusia secara politik, tetapi tidak menentukan kelangsungan strategisnya. Dalam kondisi global saat ini, Moskow menghadapi tekanan besar di kawasan lain dan memiliki keterbatasan logistik untuk memproyeksikan kekuatan secara berkelanjutan di Karibia.

Konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat di wilayah tersebut akan berarti eskalasi antar-kekuatan nuklir—sebuah skenario yang hampir pasti dihindari kecuali menyangkut ancaman eksistensial.

Oleh karena itu, dukungan Rusia cenderung berhenti pada retorika keras, kecaman diplomatik, dan perang narasi di panggung internasional.

Akhir Ilusi Perlindungan Geopolitik

Kasus Venezuela menyingkap kenyataan pahit bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Aliansi dengan kekuatan besar tidak identik dengan jaminan perlindungan militer. Rusia dan Tiongkok bersedia memberi pinjaman, menjual senjata, dan memberikan dukungan politik. Namun ketika biaya konfrontasi dengan Amerika Serikat terlalu tinggi, garis merah mereka berhenti.

Ini bukan pengkhianatan, melainkan realpolitik. Dunia memang bergerak menuju multipolaritas, tetapi belum menuju kesetaraan penuh.

Amerika Serikat masih unggul dalam proyeksi kekuatan militer, operasi presisi, dan kontrol kawasan hemisferiknya.

Penutup

Jika kejatuhan Maduro benar-benar terkonfirmasi, maka Venezuela akan dikenang bukan hanya sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi juga sebagai contoh betapa rapuhnya rezim yang menggantungkan kelangsungan hidupnya pada simbol kekuatan dan perlindungan eksternal.

Bagi dunia Global South, peristiwa ini adalah peringatan. Ideologi, sumber daya alam, dan aliansi memang penting, tetapi legitimasi internal, kohesi nasional, dan kemandirian strategis tetap menjadi fondasi utama kedaulatan.

Dalam politik global hari ini, setiap negara pada akhirnya akan diuji sendirian—dan hanya mereka yang memahami batas antara retorika dan realitas kekuatan yang mampu bertahan.*