Gerindra Nilai Pidato Megawati soal Rebutan Menteri Nasehat untuk Bangsa

Wakil ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis, 4/4/2024 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Wakil ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis, 4/4/2024 | Novia Suhari/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Wakil Ketua Umum Gerindra Habiburokhman merespons pernyataan Megawati Soekarnoputri yang menyinggung perebutan kursi menteri di Rakernas V PDIP.

Habiburokhman menilai, pernyataan Ketua Umum PDIP itu hal yang normatif dan tidak tendensius. Menurutnya, pernyataan Megawati adalah nasehat untuk bangsa.

Bacaan Lainnya

“Itu pernyataan normatif dan tidak tendensius. Pernyataan tersebut tidak ada muatan negatif sama sekali. Kami menghormati Ibu Megawati dan pernyataan beliau adalah nasehat untuk bangsa,” kata Habiburokhman kepada wartawan, Sabtu, 25/5/2024.

Menurut Habiburokhman, Megawati, sebagai Presiden ke-5 RI, memahami dinamika dalam penunjukan menteri.

“Ibu Mega punya pengalaman menjadi Presiden. Beliau tentu paham situasi di awal pemerintahan yang baru terbentuk ada dinamika soal penunjukan menteri,” kata dia.

“Hal yang wajar jika banyak orang mau jadi menteri, tinggal kita luruskan niatnya saja, jangan sampai hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Jadi menteri harus dengan semangat mengabdi dan melakukan yang terbaik untuk bangsa dan negara,” katanya lagi.

Sebelumnya, Megawati Soekarnoputri menyinggung perebutan kursi menteri dalam Rakernas ke-V PDIP yang digelar di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Jumat, 24/5.

“Sembilan tahun telah dilalui dengan berbagai dinamika politik, begitu banyak tarik menarik kepentingan terjadi, bahkan jabatan menteri pun, yang ibu dengar nih, sekarang ini sudah mulai woah, pada rebutan deh,” ujar Megawati dalam pidatonya di Rakernas PDIP.

Megawati mengatakan, saat menghadapi krisis dari segala bidang, dirinya justru lebih memilih merampingkan jumlah menteri di kabinet. Hal itu diambil sebagai bentuk profesionalitas.

“Ketika menghadapi krisis multidimensi, saya lebih memilih membentuk kabinet yang ramping dengan jumlah menteri 33. Tapi bersifat apa, zaken kabinet. Kabinetnya yang profesional,” ungkapnya.

Menurut Megawati, merampingkan kabinet saat itu mampu mengatasi krisis yang terjadi. Ia kemudian menyinggung utang Indonesia yang kian bertambah, dan mempertanyakan cara membayarnya.

“Pertanyaan saya, ayo mikir, utang kita ini gimana cara mbayar e? Ayo mikir, mikir loh, jangan enak-enakan tidur loh,” tandasnya.*