Soal Program Makan Siang Gratis, Gibran: Fokus Area 3T Dulu

Wali Kota Solo yang juga cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka, Selasa, 28/11/2023
Gibran Rakabuming Raka | Ist

FORUM KEADILAN – Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka buka suara terkait isu menjalankan program makan siang gratis yang disebut bakal terlaksana pada 2029. Gibran menyebut bahwa program tersebut akan berfokus ke area 3 T.

“Fokusnya ke area 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dulu,” jawab Gibran saat ditanyai oleh awak media, Sabtu, 17/2/2024.

Bacaan Lainnya

Gibran juga memastikan bahwa nanti akan merinci program realisasi program makan siang gratis yang merupakan bagian dari program unggulan Prabowo-Gibran.

“Nanti kami jelaskan nggih (pemangkasan subsidi BBM), terkait anggarannya sasarannya, tenang saja. Saya belum dilantik sudah pada ribut, tenang saja nggih,” imbuh Gibran.

Ia kemudian mengungkapkan bahwa saat ini dirinya masih ingin berfokus pada hasil penghitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan ia memastikan semua program kerja yang telah bentuk akan dijalankan.

“Pokoknya ini fokusnya perhitungan real count. Untuk seperti itu, program-program pasti dijalankan, dikaji dengan baik, dan bisa bermanfaat untuk masyarakat luas,” tandasnya.

Penjelasan TKN Prabowo-Gibran Terkait Program Makan Siang Gratis

Komandan Tim Komunikasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran sekaligus Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra, Budisatrio Djiwandono, membantah terkait isu yang menyebutkan bahwa Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran yang bakal terlaksana pada tahun 2029.

Budisatrio menegaskan bahwa program tersebut akan langsung dijalankan setelah nantinya Prabowo-Gibran dilantik jika menjadi Presiden dan Wakil Presiden 2024 terpilih.

“Isu yang menyebutkan program makan siang dan susu gratis baru dijalankan pada 2029 itu tidak benar. Program ini adalah program utama Prabowo-Gibran dan langsung akan dijalankan setelah Pak Prabowo dan Mas Gibran dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden,” ujar Budisatrio dalam keterangan tertulis, Jumat, 16/2/2024.

Budisatrio menilai bahwa isu ini merupakan disinformasi yang memang sengaja disebarkan di masa tenang dan mengungkit pernyataan yang menurutnya tidak disampaikan ulang secara detail.

“Pernyataan saya di awal bulan Desember dipotong dan dihilangkan konteksnya, seolah-olah saya menyatakan bahwa Program Makan Siang dan Susu Gratis baru terlaksana pada 2029. Padahal yang benar adalah, Program Makan Siang Gratis baru mencapai target maksimalnya menjangkau 82,9 juta anak pada 2029,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa program tersebut dijalankan secara bertahap sesuai dengan prioritas dan menyebut program makan siang dan susu gratis tidak langsung diberikan sebanyak 82,9 juta anak pada 2025.

“Ada misinformasi terkait proses. Yang benar adalah program ini tetap akan berjalan sejak awal Prabowo Gibran dilantik, namun dilaksanakan secara bertahap, dan dengan skala prioritas. Jadi tidak langsung 82,9 juta anak langsung mendapatkan program ini pada tahun 2025. Daerah yang paling memungkinkan dan membutuhkan akan diprioritaskan terlebih dahulu pada tahun pertama,” terangnya.

Ia kemudian menjelaskan, program tersebut akan terus dimajukan pada tahun berikutnya. Oleh karena itu program tersebut baru akan berjalan dengan maksimal pada tahun terakhir periode jabatan Presiden.

“Lalu di tahun-tahun berikutnya, 2026, 2027, dan seterusnya jumlahnya akan terus ditambah. Sehingga mencapai target maksimal 82,9 juta anak akan menerima Program Makan Siang dan Susu Gratis pada tahun 2029. Nah, pernyataan saya di bagian ini yang dipotong dan dihilangkan,” sambungnya.

Isu ini kembali muncul, Budisatrio menilai isu sengaja dimunculkan pada masa tenang walaupun pernyataannya disampaikan sejak Desember. Budisatrio menekankan bahwa Timses Prabowo-Gibran tak memberikan respons terkait karena untuk menghormati masa tenang.

“Kami menduga ini bagian dari misinformasi yang sengaja disebarkan di masa tenang kampanye lalu. Padahal pernyataan saya yang dipotong tersebut adalah pernyataan di tanggal 4 Desember. Lalu dimunculkan kembali tanggal 13 Februari, lebih dari dua bulan kemudian,” imbuhnya.

“TKN pada masa tenang tidak merespons karena kami sangat menghargai masa tenang. Namun karena sampai sekarang masih beredar, akhirnya kita putuskan untuk melakukan klarifikasi,” tandasnya.*