Aktivis 98: Kritik Mahasiswa Bukan untuk Mengambil Kekuasaan

Aktivis Perbanas '98 Dandy Kusumahartono dalam program podcast Menolak Lupa Forum Keadilan TV, Rabu, 20/12/2023
Aktivis Perbanas '98 Dandy Kusumahartono dalam program podcast Menolak Lupa Forum Keadilan TV, Rabu, 20/12/2023 | Merinda Faradianti/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Aktivis Perbanas 98 Dandy Kusumahartono mengatakan kritik yang dilakukan mahasiswa terhadap sistem pemerintahan semata-mata hanya untuk memperbaiki bukan mengambil kekuasaan. Ia menyebut, logika antara elit politik dan mahasiswa sangat jauh berbeda.

“Kritik mahasiswa bukan untuk mengambil kekuasaan. Elit politik, logikanya kekuasaan. Mereka hanya berpikir tentang kekuasaan saja,” katanya saat hadir dalam program podcast Menolak Lupa Forum Keadilan TV, Rabu 20/12/2023.

Bacaan Lainnya

Menurut Dandy, Indonesia saat ini bukan menganut paham trias politica tapi penta politica (DPR, DPA, BPK, MA, dan presiden). Ia melanjutkan, memotret Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 jangan memakai pemikiran barat karena tidak akan bertemu makna sesungguhnya.

“Ini yang membedakan kita dengan negara di luar, kenapa? Ya, ini kita Indonesia. Dengan kesejahteraan yang berbeda. Kenapa harus copy paste dan harus ikut? Semua terminologi demokrasi ala barat, ” lanjutnya.

Dandy juga mengkritisi demokrasi yang saat ini seakan seperti ‘berhala’. Kata Dandy, demokrasi hanya sebatas alat. Meskipun saat ini dinilai gagal dengan pemaknaan yang gagal.

“Karena kita menganut demokrasi barat. Kita ini ditindas bukan hanya di ekonomi tapi melalui pikiran. Kita tidak pernah merdeka. Kita tertindas, kita sudah kenal demokrasi. Tapi jangan paksakan demokrasi dengan alat mereka (pemerintahan),” tegasnya.

Dandy menyebut, Orde Baru dilahirkan dari proses pengkhianatan. Kata dia, di republik ini tidak ada dendam kekuasaan sebab dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi.

“Orde baru lahir dari pengkhianatan. Orde Baru dan ┬ázaman sekarang sama cacatnya. Keputusan Mahkamah Konstitusi tanggal 6 Oktober 2023 kemarin mengkhianati kedaulatan bangsa. Sistem dari awal sudah salah, karena siapa pun yang dipilih tetap seperti itu. Sebab sistemnya sudah menyandera. Kalau sistem menyandera, presiden dari malaikat bisa jadi setan,” tutupnya.*

Laporan Merinda Faradianti