Respons Mengenai Gagasan Contract Farming Petani, Airlangga: Kita Mau Petani Punya Tanah

Ketua Umum Partai Airlangga Hartarto di HUT Golkar ke-59, DPP Golkar, Jakarta Barat, pada Senin 6/11/2023 | Instagram @ airlanggahartarto_official
Ketua Umum Partai Airlangga Hartarto di HUT Golkar ke-59, DPP Golkar, Jakarta Barat, pada Senin 6/11/2023 | Instagram @ airlanggahartarto_official

FORUM KEADILAN – Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Airlangga Hartarto memberikan responsnya terkait dengan gagasan Contract Farming yang disampaikan oleh capres nomor urut 1, Anies Baswedan.

Ketua umum (ketum) Golkar tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak sepakat dengan ide contract farming tersebut dan Airlangga tidak menghendaki para petani tidak memiliki tanah.

Bacaan Lainnya

Airlangga mengatakan bahwa petani Indonesia memiliki tanahnya sendiri.

“Kita mau petani punya tanah, sehingga petani sejahtera, bukan pekerja petani,” ujar Airlangga di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, pada Kamis, 30/11/2023.

Airlangga menjelaskan skema contract farming tersebut sama saja dengan petani yang tidak bertanah dan ia enggan petani di Indonesia hanya bekerja bak buruh tanpa memiliki tanah.

“Contract farming adalah farmer yang enggak punya tanah. Jadi kalau di Pulau Jawa banyak yang menjadi pekerja buruh. Nah, kita enggak mau itu,” lanjut Airlangga.

Sebelumnya diketahui, Anies mengungkapkan gagasan program contract farming atau pertanian kontrak sebagai alternatif ketahanan pangan.

Konsep contract farming ini diungkapkan oleh Anies ketika ditanya tentang sikapnya terhadap program food estate yang sedang dilaksanakan pemerintah.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, petani di daerah lebih diuntungkan dengan adanya konsep contract farming daripada program food estate atau lumbung pangan. Menurutnya, uang untuk program food estate tidak mengalir langsung ke petani, melainkan ke perusahaan.

Anies mengungkapkan bahwa ia telah mengimplementasikan program tersebut ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Menurut saya sayang uang itu, lebih baik dipakai untuk program-program pertanian, sehingga petani-petani itu bisa bertani dengan baik. Dibantu pupuknya, dibantu penyuluhannya, dibantu airnya lewat uang yang sama. Lalu produknya dibuat kontrak untuk kita beli,” kata Anies.

Lebih lanjut, Anies juga menegaskan bahwa petani tradisional di Indonesia perlu diberdayakan, karena mereka merupakan kekuatan negara.

“Kalau mereka kita beli produknya, hidup mereka tenang pertaniannya tumbuh dan kekuatan Indonesia adalah justru pada petani tradisional. Itu jangan dimatikan, itu yang harus dibangun,” tutup Anies.*