Israel Bunuh Lansia Gaza Setelah Pura-pura Melindungi

Petugas perbatasan Israel berpatroli di Lion's Gate, di hadapan warga Palestina yang menunggu untuk diperbolehkan memasuki kompleks Masjidilaqsa | ist
Petugas perbatasan Israel berpatroli di Lion's Gate, di hadapan warga Palestina yang menunggu untuk diperbolehkan memasuki kompleks Masjidilaqsa | ist

FORUM KEADILAN – Militer Israel membunuh pria lanjut usia (lansia) setelah memanfaatkan pria itu sebagai bagian dari propaganda mereka bahwa Israel menyediakan ‘koridor aman’ bagi warga sipil di Gaza.

Dilansir dari Middle East Eye, Kamis, 16/11/2023, tentara Israel menggunakan Bashir Hajji, pria 79 tahun, dalam foto propaganda yang menunjukkan bahwa Tel Aviv membantu warga sipil dalam upaya evakuasi diri dari Gaza utara.

Bacaan Lainnya

Mereka mengambil foto Hajji saat dibantu oleh seorang tentara untuk berjalan dengan tongkatnya di Jalan Salah Al-Din, Jalan utama yang menghubungkan Gaza utara dan selatan. Foto tersebut diambil pada 10 November 2023.

Namun, berdasarkan laporan dari Euro-Mediterranean Human Rights Monitor, tidak lama setelah kejadian tersebut, Hajji dieksekusi dengan kejam oleh tentara Israel.

Keluarga korban menjelaskan bahwa pada saat kejadian, Hajji sedang sendirian dan mengalami kesulitan berjalan. Cucu perempuannya, Hala Hajji, mengungkapkan kepada kelompok hak asasi manusia (HAM) bahwa kakeknya dieksekusi mati di tempat setelah foto tersebut diambil.

Hajji disebut dieksekusi dengan ditembak tepat di kepala dan punggungnya.

“Beliau meninggal dalam keadaan lelah, kedinginan, haus, dan lapar,” ucap Hala Hajji dalam unggahan di Instagram, membenarkan kematian sang kakek.

Foto jenazah Hajji telah dibagikan oleh Euro-Mediterranean Human Rights Monitor, dan dalam foto tersebut terlihat punggung Hajji yang bolong akibat tembakan peluru.

Euro-Mediterranean Human Rights Monitor juga mendokumentasikan belasan kasus tentara Israel yang melakukan tindakan eksekusi terhadap warga Palestina yang terlantar. Dalam beberapa kasus, bahkan membom mereka.

Melansir Middle East Monitor, Euro-Med Monitor merupakan organisasi HAM nirlaba, dengan 70 persen staf dan relawannya berasal dari kalangan korban pelanggaran hak asasi manusia.

Organisasi ini mengadvokasi HAM semua orang di Eropa dan wilayah MENA, khususnya terhadap mereka yang hidup di bawah pendudukan, di tengah perang, atau kerusuhan politik dan/atau menjadi pengungsi karena penganiayaan atau konflik bersenjata.

Sejak 7/10 hingga Rabu, 15/11 kemarin, agresi Israel di Gaza telah menelan korban jiwa lebih dari 11.500 orang.

Serangan Israel di daerah kantong tersebut semakin memburuk karena saat ini Israel secara terang-terangan menargetkan rumah sakit.

Israel mengklaim rumah sakit (RS) di Gaza, terutama RS Al-Shifa telah menjadi markas komando Hamas dalam menjalankan operasi dan menyembunyikan para sandera.

Diketahui sejak Rabu, 15/11 kemarin, pasukan Israel telah menerobos masuk rumah sakit dan menembaki secara membabi buta terhadap apa pun dan siapa pun yang bergerak di kawasan RS.*