Sering Bermasalah, LRT Jabodebek Dinilai Belum Siap

Gerbong Light Rail Transport (LRT). | Ist
Gerbong Light Rail Transport (LRT). | Ist

FORUM KEADILAN – Belakangan, transportasi Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek sering dikeluhkan masyarakat dengan segala permasalahannya.

Pengamat Transportasi sekaligus Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, berpendapat, jarak keberangkatan antarkereta (headway) LRT Jabodebek sering bermasalah karena masih dalam masa uji coba.

Bacaan Lainnya

Djoko mengatakan, moda transportasi yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 28 Agustus 2023 itu, tidak dalam kondisi normal.

“Sebenarnya LRT Jabodebek itu masih masa uji coba. Jadi tidak bisa dikatakan dia dalam kondisi normal. Kalau uji coba musti masih ada kekurangannya itu,” katanya kepada Forum Keadilan, Sabtu, 4/11/2023.

Djoko lalu membandingkan dengan masa uji coba MRT Jakarta yang dilakukan lebih dari satu tahun. LRT, menurut Djoko, seharusnya belajar dari MRT, sehingga kendala yang terjadi saat pengoperasiannya bisa ditanggulangi dengan baik.

Kata Djoko, jika masih mengalami kendala karena pendeknya masa uji coba, seharusnya tarif yang diberlakukan tidak perlu terlalu tinggi.

“Makanya, tarifnya nggak usah tinggi-tinggi, memang saya bisa memahami saat itu beroperasi, itu otomatis dilakukan tarif normal karena harus membayar cicilan perbankan. Namanya uji coba, ya Rp10 ribu saja lah nggak usah mahal-mahal, sehingga masyarakat bisa memaklumi penggunaannya,” lanjutnya.

Sebab dinilai masih dalam masa uji coba, Djoko berpendapat sangat lazim jika masih terjadi trial and error. Meskipun begitu, LRT bisa menjadi jalan keluar permasalahan kemacetan yang terjadi.

“LRT bisa mengurai kemacetan asal tarifnya totalitas tidak lebih dari Rp50 ribu,” jelasnya.

Pendapat yang berbeda dikatakan Pengamat Transportasi sekaligus Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi Instran, Deddy Herlambang. Menurutnya, tarif yang berlaku saat ini masih terbilang normal.

Sebab, penggunaan LRT memang ditujukan bagi kalangan masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke atas. Jika harganya murah, maka masyarakat hanya berpindah moda transportasi bukan menjadi solusi pengurai kemacetan.

“Kalau menurut saya, tarif segitu memang segmentasinya untuk masyarakat menengah ke atas. Memang konsepnya ditujukan untuk mereka yang menggunakan mobil bisa pindah ke LRT. Kalau mereka biasa menggunakan mobil paling tidak kemampuan ekonominya memang cukup untuk menggunakan LRT karena biaya tol bisa di alokasikan ke ongkos LRT,” katanya kepada Forum Keadilan.

Deddy berpendapat, masalah LRT yang terjadi saat ini bukan semata-mata karena masa uji coba yang pendek. Namun, karena memang penggunaan LRT masih terbilang baru di Indonesia, sehingga masih terjadi transisi.

“LRT seperti sekarang ini bukan karena masa uji coba yang pendek, tapi memang kita masih pertama menggunakan itu. Masih level 3 tanpa masinis, masih trial and error. Kalau tidak dicoba sekarang kapan lagi, itu masalah kalibrasi memang membutuhkan waktu yang lama,” ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah masyarakat mengeluhkan persoalan jarak keberangkatan antarkereta (headway) LRT Jabodebek karena sedang masa perbaikan. Masalah tersebut berimbas dari ausnya roda kereta.

Selain itu, jarak waktu keberangkatan antarkereta yang mencapai 30 di saat jam sibuk turut menjadi keluhan masyarakat.*

Laporan Merinda Faradianti