Manuver Politik Prabowo Pilih Gibran sebagai Cawapres

Potret kebersamaan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka | Instagram @prabowo
Potret kebersamaan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka | Instagram @prabowo

FORUM KEADILAN – Belakangan publik dihebohkan dengan keputusan Prabowo Subianto yang memilih Wali Kota Solo sekaligus putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presidennya (cawapres) di Pilpres 2024.

Menjadikan Gibran yang notabene-nya merupakan kader PDIP, yang mana mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres), dinilai telah lama dipersiapkan oleh Prabowo.

Bacaan Lainnya

Keputusan menggandeng Gibran itu dinilai sebagai strategi utama Prabowo mendekatkan diri pada masyarakat yang selama ini pro terhadap Jokowi.

“Saya kira apa yang dilakukan Prabowo ini sebetulnya sudah bisa terbaca sebelumnya. Jadi salah satu strategi utama dari Prabowo sekarang adalah mendekati masyarakat yang selama ini pro terhadap Joko Widodo atau memberikan apresiasi terhadap kepemimpinannya Jokowi,” terang Pengamat Politik dari Saiful Mujani Research Consulting Saidiman Ahmad kepada Forum Keadilan.

“Dan kalau sekarang kemudian menarik Gibran, ya itu kelanjutan dari strategi politik yang dilakukan sebelumnya oleh Pak Prabowo Subianto. Jadi sebelumnya kan berusaha mendekatkan diri dengan Pak Jokowi,” katanya lagi.

Prabowo seolah tak mempermasalahkan soal polemik dinasti politik maupun abuse of power (tindakan penyalahgunaan kekuasaan) yang saat ini kerap dikaitkan dengan pencalonan Gibran.

Ya, keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memutuskan batas usia minimal capres-cawapres di angka 40 tahun tapi dengan pengecualian sudah pernah menjabat sebagai kepala daerah, ramai dinilai sebagai cara untuk meloloskan Gibran di panggung Pilpres.

Terlebih, salah satu yang terlibat dalam pengabulan gugatan ini adalah Ketua MK Anwar Usman, yang kebetulan merupakan adik ipar dari Presiden Jokowi atau paman dari Gibran.

Prabowo seolah tutup mata akan hal itu demi menggaet pendukung Jokowi.

“Bahkan dia mengklaim sebagai kelanjutan dari pemerintahan Pak Jokowi, mengambil nama Koalisi Indonesia Maju sebagai nama koalisi pendukung Prabowo sekarang, yang sebelumnya Koalisi Indonesia Maju itu adalah nama untuk pendukung Pak Jokowi. Jadi, dengan mengambil Gibran sekarang, saya kira itu kelanjutan dari strategi politik Pak Prabowo Subianto,” beber Saidiman.

Saidiman menyebut bahwa tujuan utama Prabowo saat ini adalah meningkatkan elektabilitas, dan salah satu cara yang dipilih adalah menggandeng Gibran, dengan harapan agar sebagian dari basis pendukung Jokowi akan beralih mendukung Prabowo.

“Mungkin dia melihat bahwa dengan mengambil Gibran Rakabuming, maka basis-basis pendukung Pak Jokowi selama ini akan setidaknya beralih ke Prabowo Sudianto,” jelas Saidiman.

Meski begitu, Saidiman mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya tidak menemukan ada efek signifikan dari cawapres terhadap elektabilitas capres.

“Jadi publik itu lebih memilih capresnya dibanding cawapres. Cawapres itu tidak punya efek signifikan terhadap elektabilitas capres, yang membuat mereka naik elektabilitasnya adalah dirinya sendiri, si capresnya sendiri,” pungkas Saidiman.

Untuk itu, Prabowo perlu berhati-hati. Sebab, pemilihnya yang dulu yang justru memilihnya karena anti Jokowi, mungkin akan berlain hati memilih calon lain.

“Saya kira dengan pemilih yang memilih Prabowo Sudianto karena anti pada Pak Jokowi sekarang akan lebih kritis dan kemungkinan pindah ke Anies Baswedan, karena mereka dulu memilih Pak Prabowo bukan karena Pak Prabowo tapi karena tidak suka dengan Joko Widodo,” kata Saidiman.*