Kereta Cepat WHOOSH Diklaim Tak Terlalu Berdampak pada Masyarakat

Momen Jokowi jajal Kereta Cepat Jakarta-Bandung | Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden
Momen Jokowi jajal Kereta Cepat Jakarta-Bandung | Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden

FORUM KEADILAN – Pengamat Transportasi sekaligus Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi Instran, Deddy Herlambang, menanggapi proyek kereta cepat WHOOSH yang baru saja diluncurkan oleh pemerintah Indonesia.

Kereta yang digadang-gadang bakal memangkas jarak antara Jakarta-Bandung ini nyatanya tidak terlalu memberikan dampak signifikan pada masyarakat.

Bacaan Lainnya

Menurut Deddy, WHOOSH tidak bisa memangkas jarak dan waktu bagi masyarakat yang tinggal jauh dari Halim Perdanakusuma.

“Kalau untuk memangkas jarak ya memang betul, mungkin kalau dari Halim, ya mungkin radius paling banyak itu 5-6 KM mungkin. Kalau mereka berangkat dari Jakarta Timur, Kalimalang, atau Bekasi itu mungkin dekat. Tapi kalau rumahnya di Jaksel, atau di Bintaro ya tidak memangkas waktu malah justru menjadi jauh. Ke Halim saja bisa 2 jam sendiri, misalnya dari Jaksel karena selalu macet kan,” katanya kepada Forum Keadilan, Minggu, 1/10/2023.

Jika seperti itu, menurutnya mungkin moda transportasi lainnya masih menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin ke Bandung.

Masalah lainnya, Deddy berpendapat pada proses transit yang berulang kali, seperti transit di stasiun Padalarang.

“Nah kalau mau transit di Tegalluar disambung dengan bis Damri, itu kan memerlukan waktu lama juga. Sedangkan Padalarang-Bandung itu masih jauh 21 KM lagi, saya kira tergantung tempatnya. Jadi tidak langsung cepat, karena tetap ada proses transit, apalagi menggunakan angkutan umum,” ujarnya.

Kendati begitu, ia menjelaskan kereta cepat WHOOSH saat ini bisa menjadi salah satu pilihan moda transportasi bagi masyarakat.

Sebab, menuju Bandung masyarakat masih bisa menggunakan jasa angkutan lainnya.

Ia bahkan menyebut moda transportasi yang menjadi primadona masyarakat. Seperti bus travel yang langsung menuju Bandung hingga kereta api.

Namun, menurut Deddy, manfaat kereta cepat WHOOSH bisa dirasakan 5 hingga 10 tahun ke depan. Bahkan bisa menjadi kebutuhan wajib masyarakat.

Hal ini lantaran ia memprediksi jalan tol akan mengalami kemacetan yang lebih parah lagi.

“Nah ketika jalan tol sudah padat dan tidak mampu melayani volume kendaraan karena setiap tahun itu bertambah. Jadi kemungkinan kereta cepat ini bisa menjadi kebutuhan untuk yang ingin cepat ke Bandung. Argo Parahyangan kan 3 jam, tapi kalau kereta cepat itu bisa 1,5 jam,” imbuhnya.

Ia juga menanggapi soal sentimen beberapa pihak yang menyebut bahwa WHOOSH tidak akan balik modal.

Menurutnya, keuntungan kereta cepat tidak hanya diambil dari penjualan tiket saja. Tapi bisa dari iklan ataupun tenant di stasiun.

“Bisa juga karena dekat hotel, perkantoran, dan lain-lain. Kereta cepat ini juga bisa menjadi commuter. Asal tarifnya, kompetitif sama dengan ketika orang menggunakan jalan tol,” pungkasnya.*

 

Laporan Novia Suhari