Kaesang Gabung PSI Bentuk Cawe-cawe Jokowi

Kaesang Pangarep dan Jokowi
Kaesang Pangarep dan Jokowi | Ist

FORUM KEADILAN – Dunia politik di Indonesia dihebohkan dengan didapuknya Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Senin, 25/9/2023.

Terpilihnya Kaesang dalam tampuk kekuasaan ini diharapkan mampu membawa lokomotif PSI menaikkan elektabilitas dalam pemilihan legislatif (Pileg) 2024 mendatang.

Bacaan Lainnya

Bak sulap, Kaesang menjadi ketua umum PSI menggantikan Giring Ganesha hanya dua hari berselang usai ia bergabung yakni pada Sabtu, 23/9 lalu.

Tak pelak, ada pihak yang memandang jika jabatan yang diraih oleh Kaesang Pangarep ini berkat privilege dari sang ayah, Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kiprah Kaesang dalam dunia politik bisa dibilang tak ada pengalaman.

Adik bungsu Gibran Rakabuming Raka bahkan sempat menyatakan ketidaktertarikannya dalam dunia politik.

Hal tersebut disampaikan Kaesang saat mengisi program siniar Deddy Corbuzier pada 2022 lalu.

Saat itu Kaesang juga secara terang-terangan menyinggung soal gaji sebagai pegawai publik yang terlampau kecil. Sehingga, menurut dia, bekerja sebagai pengusaha lebih enak.

“Saya kan tahu nih Mas Gibran, gaji Wali Kota (Solo) berapa. (Jika dibandingkan) sama saya hmm… kasihan. Sudah gajinya segitu, kena Covid-19 pula,” ujar Kaesang saat itu.

Selain itu, setelah diangkat menjadi Wali Kota Solo pada Februari 2021, Gibran juga dilarang mengurus bisnisnya.

“Belum lagi dia harus bertanggung jawab terhadap ratusan ribu warga. Kan ribet, mending saya, masih bisa santai, zoom call, menikmati hidup,” ungkapnya.

Bak menjilat ludah sendiri, kini Kaesang justru menduduki pucuk kekuasaan di PSI.

Menilik kiprah Kaesang dalam dunia politik, Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin justru melihat adanya konflik kepentingan dari sang kepala negara.

Ujang menilai kini Jokowi tengah bermain api dengan ketua umum partainya sendiri, Megawati Soekarnoputri.

“Dengan masuknya Kaesang ke PSI ini melihat bahwa Jokowi kelihatannya sedang bermain api dengan Megawati, sedang bermain-main dengan PDIP,” ujar Ujang kepada Forum Keadilan pada Selasa, 26/9/2023.

Apa yang dilakukan oleh Jokowi melalui putra bungsunya ini dianggap sebagai indikasi sang kepala negara sudah tidak nyaman dengan partai yang membesarkan namanya. Jokowi dianggap sudah tidak nyaman, tidak dihargai hingga dianggap sudah tidak punya peran lagi di PDIP.

Inilah yang membuatnya terus mencari pelabuhan lain dengan bentuk cawe-cawe yang selama ini dilakukannya. Cawe-cawe ini nyatanya juga dilakukan oleh putra bungsunya, Kaesang.

Berlabuhnya Kaesang dalam gerbong PSI juga diakui Ujang sudah bisa diprediksi. Terlebih dengan ketegasan pihak PSI yang menyebut mereka akan tegak lurus dengan Jokowi.

“Dalam konteks ini, Kaesang menjadi jadi Ketum PSI gantikan Giring ya itu skema, sudah didesain, sudah direncanakan dan diprediksi sebelumnya. Itu kan keinginan Jokowi dan kita tahu bahwa PSI kadernya Jokowi, yang dibina oleh Jokowi, yang manut tegak lurus bersama Jokowi. Kalau Kaesang jadi ketua umunya tidak ada yang aneh karena emang partainya Jokowi,” tambah Ujang.

Senada dengan Ujang, Pengamat Politik sekaligus Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti, berpendapat jika bergabungnya Kaesang di PSI tak lepas dari adanya sosok Jokowi.

Mengaku tak tahu persis bagaimana peraturan internal PSI, Ray menyebut penunjukkan Kaesang sebagai Ketum adalah keputusan politik yang menggelikan.

“Tidak ada yang paling menggelikan dalam bulan ini di ruang politik, kecuali PSI memilih Kaesang sebagai ketua umum partai itu. Seperti sim salabim. Bila merujuk ke suasana ini, maka sangat patut kita geli melihatnya. Bagaimana tidak, orang yang baru sehari ditetapkan sebagai anggota, tiba-tiba sudah ditetapkan jadi ketua umum,” jelasnya.

Ray bahkan menyinggung soal organisasi sederhana yang memiliki tata cara, waktu, syarat dan pelibatan anggota dalam pemilihan ketua umumnya.

Berbeda dengan PSI yang langsung menunjuk kader yang baru dua hari bergabung, Ray menyebutnya ini dengan istilah ‘menggantungkan diri pada bapakisme’.

“Kaesang adalah anak presiden, dan PSI hendak meraup suara pemilih yang memilih berdasar popularitas Pak Jokowi. Jelas, sifat menggantungkan diri pada bapakisme ini mengaburkan idiom PSI sebagai partai anak muda atau kaum milenial,” paparnya lagi.*(Tim Forum Keadilan)