Keluh Kesah Sepi Pedagang di Tanah Abang

Kondisi Pasar Tanah Abang
Kondisi Pasar Tanah Abang | Syahrul Baihaqi/forumkeadilan.com

FORUM KEADILAN – Siang hari matahari begitu terik dan langit nampak kelabu, petugas Dishub bertugas dijalan sembari mengurai kemacetan.

Terlihat buruh angkut barang mondar-mandir membawakan barang dan penjual kantung belanja sibuk menawarkan barangnya.

Bacaan Lainnya

Di luar pasar Tanah Abang Blok B, terlihat cukup ramai masyarakat berlalu-lalang. Pedagang buah di tepi jalan tengah membereskan dagangannya karena ingin dirapikan oleh Satpol PP.

Pemandangan ini terlihat kontras saat memasuki ke dalam Blok B Pasar Tanah Abang.

Jalanan di koridor sangat lenggang, tidak ada penumpukan pembeli dan untuk berjalan pun sangat lancar, tidak berdesak-desakan.

Beberapa penjaga toko terlihat tengah bermain dengan smartphone masing-masing, beberapa lainnya asik mengobrol dengan sesama pedagang. Namun ada juga yang tengah sibuk tawar-menawar dengan calon konsumen mereka.

Penjual pun tidak putus asa menawarkan barang dagangan mereka. Sesekali mereka teriak untuk memanggil pelanggan mereka.

“Boleh, bu, boleh pakaiannya,” ucap pedagang yang sedang menjajakan dagangan¬† mereka.

Nanda (22) seorang penjaga toko yang tidak jauh dari pintu utama Blok B mengungkapkan pasar Tanah Abang sepi sejak awal tahun ini.

Saat ditemui Forum Keadilan, Nanda mengungkapkan pemasukannya turun hingga 40 persen. Padahal tokonya berada di depan lantai utama yang kerap kali dilalui pembeli.

Dia mengungkapkan di hari biasa lebih sepi pengunjung ketimbang akhir pekan.

“Sabtu dan Minggu biasanya ada rombongan dari bus-bus jadi lebih ramai,” ujarnya.

Tokonya banyak menjual produk pakaian wanita, mulai dari kebaya, jaket, hingga pakaian muslim.

Dia menjelaskan tokonya juga punya E-commerce, namun tidak terlalu ramai penonton.

Terlihat sesekali dia dan rekannya melayani calon pembeli dari berbagai usia.

Dia mengatakan ada 2 toko yang baru saja tutup karena pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Di akhir bulan ini juga dia menyebut ada 1 toko tidak jauh dari tempatnya akan tutup juga.

“Nih awal bulan ini, Chezzie mulai tutup karena tidak sesuai dengan pemasukan,” ujarnya.

Ditengah wawancara ada 2 orang ibu-ibu yang datang berkunjung dan melihat produk-produk yang dijual di toko Nanda, namun mereka beranjak kembali.

Di Blok B terdiri dari beberapa lantai. Di lantai B1 dikhususkan untuk menjual tekstil, tirai dan sprei. Pada lantai LG dan SLG menjual pakaian wanita dewasa dan busana muslim.

Di lantai 1 pusat pakaian ABG dan anak. Lantai 2 khusus kemeja pria dan T-shirt. Sedangkan lantai 3 untuk kemeja pria, jaket, dan pakaian olahraga.

Beberapa pedagang menolak diwawancarai Forum Keadilan tanpa memberi alasan.

Dua wanita yang menjual pakaian wanita juga menolak untuk diwawancarai dikarenakan mereka sedang mau jualan live.

“Lagi mau live, bang, yang lain saja,” ucapnya.

Ditemui terpisah, Vivi (25) mengungkapkan alasannya ke Tanah Abang. Dia mengatakan ke Pasar Tanah Abang hanya untuk menemani ibunya berbelanja.

Dia mengaku lebih suka belanja secara daring dengan alasan lebih murah dan tidak perlu keluar rumah. Ketika ditanya apakah pernah berbelanja di TikTok Shop, dia menyebut tidak pernah dan belanja melalui E-commerce Shopee.

“Lebih suka belanja online karena lebih murah dan tidak perlu keluar rumah. Sekarang hanya nemenin mamah saja,” ucapnya.

Semakin ke lantai atas, semakin sepi pula pengunjung yang ditemui. Jumlahnya bahkan bisa dihitung dengan jari.

Wawan (28) merupakan perantau dari Padang yang melanjutkan usaha orang tuanya di Tanah Abang. Dia menyebut penjualannya merosot sejak pandemi Corona kemarin.

Tokonya berada di lantai 3 dan menjual pakaian pria mulai dari baju, celana hingga jaket. Dirinya juga mengeluhkan sepinya pembeli akhir-akhir ini.

“Sedikit kalau hari biasa, Sabtu-Minggu lumayan ramai,” ucapnya kepada Forum Keadilan.

Saat ditanya apakah dirinya membuka toko online seperti TikTok Shop, dia menjawab tidak karena takut menyaingi para pelanggan yang membeli darinya.

“Mau bikin sih (toko online), tapi tidak enak saingan sama pelanggan sendiri,” ujarnya.

Tidak seperti di lantai utama hanya 2-3 toko yang tutup gerai, sedangkan di lantai 3 sampai lantai 5, cukup banyak toko yang gulung tikar.

Di beberapa toko juga tertempel selebaran kertas yang dipasang UPB Pasar Tanah Abang Blok B. Dalam selebaran tersebut tertulis toko tersebut belum melunasi tunggakan biaya pengelolaan pasar.*