Radikalisme di BUMN, Sistem Rekrutmen Dipertanyakan

Ilustrasi rekrutmen
Ilustrasi rekrutmen | ist

FORUM KEADILAN – Karyawan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terpapar radikalisme. Profiling karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dipertanyakan.

Pengamat Intelijen dan Terorisme Universitas Indonesia (UI) Stanislaus Riyanta mengatakan, kasus karyawan BUMN yang terpapar radikalisme bukan pertama kali terjadi.

Bacaan Lainnya

“Sudah banyak bukti bahwa radikalisme sudah terjadi di mana-mana, termasuk di lembaga milik negara. Kasus karyawan BUMN yang terpapar paham radikal dan terlibat aksi terorisme juga sudah beberapa kali,” katanya kepada Forum Keadilan, Selasa, 15/8/2023.

Riyanta berpendapat, untuk meminimalisir dan mencegah kejadian terorisme harus ada pengecekan mendalam terhadap profil calon karyawan dalam proses rekrutmen.

“Harus ada profiling calon karyawan dan karyawan aktif, ini mitigasi yang harus dilakukan karena peristiwa sudah terjadi. Dan siapa yang di balik ini perlu profiling dan pemetaan juga, sehingga diperoleh data yang valid,” ungkapnya.

Riyanta juga menjelaskan, seseorang yang sudah terpapar paham radikalisme sudah pasti memiliki jaringan dengan pelaku lainnya. Meskipun tidak mudah, tetapi pelaku memilih akses senjata ilegal.

“Orang yang sudah terpapar paham radikal dan sudah pada tahap aksi teror pasti punya jaringan. Ia juga tentu akan mencari cara mendapatkan senjata,” sambungnya.

Dalam kasus ini sendiri, senjata yang digunakan pelaku merupakan senjata rakitan atau senjata yang berasal dari daerah konflik. Menurut Riyanta, peristiwa ini harus menjadi alasan pemerintah untuk mengusut siapa otak dari kejadian tersebut.

“Dugaan saya senjata itu kemungkinan senjata rakitan, atau senjata dari daerah konflik atau senjata dari jaringan teroris dari negara lain yang dekat dengan Indonesia. Belasan senjata, yang cukup untuk mempersenjatai dua regu teroris ini sangat mengerikan dan harus diungkap sampai tuntas. Dari mana asalnya dan harus dibereskan, apalagi menjelang tahun politik 2024, ancaman terorisme di Indonesia sangat serius,” tegasnya.

Sebelumnya, seorang karyawan BUMN tepatnya PT Kereta Api Indonesia (KAI) berinisial DE ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri pada Senin 14/8 kemarin di kawasan Bekasi Utara. Ia diketahui merupakan seorang pendukung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) serta masif melakukan propaganda jihad di media sosial.

DE berperan mengirimkan unggahan Facebook berupa poster digital berisikan teks pembaruan baiat dalam bentuk Bahasa Arab dan Indonesia kepada pemimpin ISIS, Abu Al Husain Al Husaini Al Quraisy.

Selain itu, DE juga menjadi admin dan pembuat beberapa kanal Telegram Arsip Film Dokumenter dan Breaking News. Kanal Telegram ini merupakan kanal pembaruan informasi teror global yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.*

Laporan Merinda Faradianti