Fahri Hamzah Kritik KPU yang Biarkan Parpol Tanpa Perdebatan

Fahri Hamzah
WAKIL Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah dalam Podcast Kafe Juwe FORUM KEADILAN TV, Kamis, 22/12/2022. | Ade Fery Anggriawan/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Wakil Ketua Umum Parfai Gelora Indonesia Fahri Hamzah mengkritik Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang membiarkan partai politik dalam situasi tanpa perdebatan. Ia menantang KPU untuk menciptakan situasi yang lebih hidup dengan perdebantan di antara partai.

“Harusnya ada sistem politik yang memberikan kesempatan kepada 17 partai politik untuk menunjukkan perbedaannya dengan yang lain di mata rakyat. Itulah yang kami tantang, mengapa KPU membiarkan partai politik ini dalam situasi tanpa perbedebatan,” ujar Fahri dalam Podcast Kafe Juwe FORUM KEADILAN TV, pada, Kamis, 22/12/2022.

Bacaan Lainnya

Dalam podcast yang dibawakan Pemimpin Redaksi FORUM KEADILAN Juwendra Asdiansyah ini, mantan Wakil Ketua DPR RI ini menyebut perdebatan ini menjadi alat untuk menguji menguji validitas pemikiran bangsa Indonesia melalui partai politik.

“Hal tersebut tentu untuk menjawab, apakah betul di dalam tubuh bangsa Indonesia ini dengan 17 partai politik juga memiliki 17 jenis pemikiran. Itu harus diuji, Amerika saja bangsa yang besar hanya memiliki dua pemikiran, yaitu orang Republik yang konservatif dan orang Demokrat yang liberal,” kata Fahri.

Fahri kemudian menyebut akan menjadi sulit untuk menjelaskan jika tidak ada mediumnya.

“Kalo seperti ini tentu sulit bagi partai politik untuk menjelaskan kepada orang lain kami begini begini dan begini kalo tidak ada mediumnya,” jelas dia.

Adapun mengenai caranya, mantan politisi Partai PKS itu menyebut, harusnya negara menyiapkan fasilitas perdebatan.

“Jadi misalnya sekarang ini sesuai yang kita jadwalkan, untuk pendaftaran Capres itu dimulai pada September 2023. Nah, harusnya rentang waktu sembilan bulan ini dijadikan medium kontestasi oleh KPU agar setiap partai politik menunjukan perbedaannya dengan disiapkan fasilitas perdebatan,” kata Fahri.

Lebih jauh, Fahri menjelaskan ada tiga komponen yang dapat diuji untuk melihat perbedaan tersebut.

“Jadi ada tiga komponen  yaitu ide, cara kerja dan figur. Artinya, setiap partai itu harus memiliki gagasan, cara dalam bekerja, dan sosok yang dapat menyampaikan tiga komponen tadi di depan publik sebagai daya tarik dan sebagai pembeda,” urainya.

“Sekarang ini kan partai politik sedang di simpan, tidak diberikan kesempatan untuk berdebat atau menyampaikan pemikirannya terhadap Bangsa Indonesia sehingga partai yang seharusnya  dapat menjadi sarana aspirasi politik tidak lagi dipedulikan oleh rakyat,” pungkasnya.*

 

Laporan Ade Feri Anggriawan