Pelatihan Tutor Narapidana Di Lapas Cibinong Oleh Dosen Kriminologi UI

 

Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat, dua dosen dan seorang mahasiswi S2 dari Derpartemen Kriminologi Universitas Indonesia melakukan kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Cibinong Jawa Barat.

Dua dosen tersebut adalah Eko Hariyanto dan Thomas Sunaryo. Sedangkan mahasiswa S2 tersebut  adalah Elizar Ayu Putri

Adamun tema kegiatan tersebut diberi judul “Pelatihan dan Pendampingan Peningkatan Kompetensi Tutor Narapidana di LAPAS Klas IIA Cibinong”.

Berikut pemikiran mereka dan pelaksanaan kegiatan pelatihan tersebut

Berdasarkan konvensi internasional dan konsiderannya, para narapidana memiliki hak atas pendidikan yang sama dengan warga negara lainnya. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan ayat 2 telah diamanatkan bahwa hak dan kewajiban setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Hal itu dipertegas lagi dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 5 ayat 1 yang menyatakan tentang hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Dalam konteks pembinaan narapidana dalam penjara, pendidikan dan pelatihan mencerminkan salah satu sarana utama yang membantu rehabilitasi dan reintegrasi narapidana ke dalam masyarakat setelah menjalani masa pidananya di penjara. Melalui pendidikan, seluruh potensi narapidana (termasuk narapidana anak) dapat digali dan dikembangkan secara optimal. Berbagai riset di berbagai negara membuktikan bahwa terdapat indikasi kuat bahwa pendidikan, khususnya vokasional, memiliki dampak positif terhadap penurunan residivisme dan bukti reintegrasi narapidana yang sukses.

 

Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Cibinong, Jawa Barat

 

Namun ironisnya, dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun 2015 (BAPENAS, 2014:68) disebutkan bahwa “anak yang berada di LAPAS masih mengalami kendala dalam mengakses layanan pendidikan”…. Tantangan ke depan di bidang pendidikan adalah meningkatkan akses dan kualitas layanan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, termasuk akses anak  dengan kondisi khusus (termasuk di dalamnya narapidana anak-pen.) terhadap layanan yang dibutuhkan (yakni layanan pendidikan-pen).

Oleh karena itu, Rencana Kerja pemerintah untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan pendidikan bagi narapidana anak di LAPAS tersebut sangatlah tepat karena berbagai penelitian yang ada memperlihatkan fakta bahwa pendidikan bagi narapidana (khususnya narapidana anak) di berbagai LAPAS berjalan seadanya, tidak berkelanjutan, dan belum sepenuhnya dapat mengakomodir minat dan kebutuhan narapidana anak, serta masih jauh tertinggal dari sekolah-sekolah di luar tembok penjara. Bahkan ada beberapa LAPAS yang tidak menyelenggarakan pelayanan pendidikan khusus bagi narapidana anak. Selain itu, penyelenggaraan pelayanan pendidikan yang ada juga masih jauh dari memenuhi Indikator Kunci Pencapaian 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang telah ditetapkan pemerintah melalui berbagai Permendiknas.

Realitas di atas mengindikasikan adanya banyak kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan bagi narapidana anak di LAPAS Dewasa di Indonesia.

Berdasakan hasil penelitian kami sebelumnya (2014) ditemukan adanya 3 (tiga) kendala utama, yaitu: 1) Kendala Internal, 2) Kendala Eksternal, dan 3) Kendala dari Individu Narapidana Anak. Di antara ketiga kendala tersebut, kendala internal, khususnya yang terkait dengan kompetensi tutor dalam proses pembelajaran, dianggap merupakan masalah yang sangat mendesak untuk segera ditangani dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di LAPAS. Karena para tutor yang mengajar di LAPAS pada umumnya adalah petugas LAPAS, bahkan para Narapidana yang notabene tidak memiliki latar belakang pendidikan keguruan dan kependidikan. Umumnya mereka belum pernah memperoleh pendidikan dan pelatihan tentang Proses Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar. Sehingga tidak mengherankan apabila proses pembelajaran yang terjadi di dalam LAPAS dilaksanakan seadanya, monoton dan tergantung pada selera dan kemampuan tutor tanpa mempertimbangkan berbagai faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran.

Tutor narapidana praktik mengajar di depan kelas

SOLUSI

Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka hal yang sangat mendesak untuk segera dilakukan guna memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di LAPAS adalah meningkatkan kompetensi tutor dalam proses pembelajaran, khususnya kemampuan bagaimana merancang dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang tepat serta kemampuan melakukan evaluasi proses dan evaluasi hasil pembelajaran. Metode untuk meningkatkan kompetensi para tutor di LAPAS dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan peningkatan kompetensi proses pembelajaran bagi para tutor di LAPAS. Pelatihan dan pendampingan seperti ini belum pernah diberikan kepada para tutor di LAPAS. Oleh karena itu Program IPTEKS bagi MASYARAKAT yang kami lakukan ini adalah berupa Program Pendampingan Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Proses Pembelajaran di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS), dengan Pilot Project di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Kelas IIA Cibinong, Jawa Barat selama 8 (delapan) bulan dari April hingga Nopember 2017.

 

Tutoe narapidana sedang praktik membuat media pembelajaran

 

 

 

PROGRAM PELATIHAN  DAN PENDAMPING

Kegiatan Pelatihan dan Pendampingan ini lebih dititikberatkan pada aspek teoritik dan praktik bagi para Tutor Narapidana yang mengajar pada program Kejar Paket di LAPAS Kelas IIA Cibinong-Jawa Barat. Materi kegiatan meliputi 7 (tujuh) materi pokok yang dikelompokkan ke dalam 4 (empat) Sesi Pelatihan & Pendampingan adalah sebagai berikut:

Materi Pelatihan Kompetensi Guru adalah sebabagai berikut

Kurikulum

a. Kurikulum 13 (KURTILAS)

b. Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah

c. Standar Isi untuk Program Paket A, Paket B, dan Paket C

Dengan pelatihan ini ada tiga hal yang ingin dicapai:

1.Peserta diharpkan memahami kurikulum 13 dan bedanya dengan kurikulum sebelumya;

2. Peserta memahami Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah sebagaimana diatur dalam Permendikbud No.54 tahun 2013.

3. peserta memahami Standar Isi untuk Program Paket A, Paket B, dan Paket C  sebagaimana diatur dalam Permendiknas No.14 tahun 2007.

Model Pembelajaran

a. Model-Model Pembelajaran yang Efektif

b. Pembelajaran Berbasis Kontekstual

Peserta diharapkan mampu memilih dan menerapkan Model-model Pembelajaran yang dianggap efektif, dan tepat dengan kondisi anak didiknya.

Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Peserta diharapkan mampu membuat dan menerapkan RPP dalam proses pembelajaran

Media Pembelajaran atau alat peraga

Peserta diharapkan mampu membuat dan menggunakan Media Pembelajaran dalam proses pembelajaran

Latihan Evaluasi Proses dan Hasil Pembelajaran. Disini peserta diharapkan mampu membuat Soal untuk Tes, mampu menganalisis hasil tes; dan dapat Mengolah dan menetapkan Nilai berdasarkan pada hasil tes anak didiknya.

Kegiatan Pelatihan dan Pendampingan ini dibagi menjadi 2 (dua) Tahapan Pelaksanaan Kegiatan, yaitu: 1. Tahap Pertama yang mulai dilaksanakan sejak tanggal 17 April hingga 2 Agustus 2017. Kemudian dilanjutkan dengan 2. Tahap Kedua yang mulai dilaksanakan mulai                     21 Agustus hingga 4 Desember 2017.

Setiap selesai Pelatihan Teoritis, para tutor peserta akan didampingi oleh Tim Pengabdi dan Nara Sumber untuk mempraktikkan secara langsung pengetahuan yang diperoleh. Melalui praktik langsung dan Pendampingan ini diharapkan para tutor dapat memperoleh pengalaman nyata dan dapat menanyakan kepada para pendamping apabila ada yang belum dimengerti atau menghadapi kesulitan.

Tutor narapidana belajar membuat alat peraga sebagai media pembelajaran

Setiap tahapan pelatihan dan pendampingan selalu ditutup dengan suatu Evaluasi atau Umpan Balik dari para tutor agar diperoleh masukan positif maupun negatif yang akan dipergunakan dalam mengevaluasi dan menyempurnakan materi dan metode pelatihan dan pendampingan sesi tersebut dan sesi pelatihan-pendampingan berikutnya.

Selain itu, secara institusional, Program Pelatihan dan Pendampingan ini sangat mendukung penguatan Program Pembinaan Bagi Narapidana Anak di LAPAS yang merupakan Tugas dan Fungsi Utama dari didirikannya institusi LAPAS itu seendiri. Banyak hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa salah satu kendala utama dalam Pembinaan Narapidana Anak di LAPAS, khususnya Pembinaan Kepribadian yang berupa pendidikan formal bagi narapidana anak adalah terbatasnya kuantitas dan kompetensi Guru/Tutor di LAPAS tersebut.

Secara akademis, Program Pelatihan dan Pendampingan Peningkatan Kompetensi ini merupakan salah satu wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan juga upaya penerapan bidang kajian Kriminologi, khususnya mata kuliah Penologi,

mata kuliah Sosiologi Kepenjaraan, serta mata kuliah Strategi Pencegahan Kejahatan, karena upaya pelatihan ini secara tidak langsung akan berpengaruh kepada upaya mencegah residivisme sebagaimana telah dibuktikan oleh berbagai penelitian di berbagai negara telah membuktikan bahwa pendidikan bagi narapidana memiliki dampak positif terhadap penurunan residivisme dan bukti reintegrasi yang sukses.

alat peraga hasil karya tutor narapidana

Secara keseluruhan, kontribusi mendasar Program IPTEKS bagi Masyarakat (berupa Pelatihan dan Pendampingan) ini bagi khalayak (khususnya para Tutor di LAPAS Kelas IIA Cibinong) jelas sangat besar manfaatnya. Karena setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan ini diharapkan para Tutor tersebut akan memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar yang sangat dibutuhkannya dalam peningkatan kinerja dan mutu proses pembelajaran di LAPAS. Sehingga pada gilirannya nanti juga akan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran terhadap para narapidana di LAPAS tersebut. Oleh karenanya juga akan sangat berpengaruh bagi proses rehabilitasi dan re-integrasi para napidana anak kelak setelah selesai menjalani masa pidananya, serta dapat menurunkan angka residivisme di masa datang.

Secara umum kegiatan ini berjalan lancar, namun demikian ditemui beberapa kendala yang sangat mengganggu yaitu: terbatasannya jumlah Buku Paket dan Buku Pengayaan yang sangat dibutuhkan dalam mendukung kualitas pembelajaran. Kelangkaan buku ini terjadi karena pihak LAPAS mengaku tidak memiliki anggaran untuk membeli buku, karena dalam DIPA tidak pernah dianggarkan. Situasi kian buruk, ketika bantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor juga tidak pernah menetes ke LAPAS. Oleh karena itu, perlu diupayakan terobosan misalnya melalui menggalang dana dan bantuan dari pihak masyarakat luas melalui media sosial. Kami yakin banyak dari kita yang tidak mengetahui kondisi yang memprihatikan ini, mudah-mudahkan melalui tulisan singkat dapat mengetuk hati Anda untuk peduli kepada saudara kita yang berada di balik terali besi yang membutuhkan bantuan buku pelajaran dari kita semua.