Minggu, 31 Agustus 2025
Menu

Skenario Politik di Balik Demo, Pengamat Sebut Ada Upaya Mendelegitimasi Prabowo

Redaksi
Masa aksi unjuk rasa jebol pintu masuk DPD RI, Jumat, 29/8/2025 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Masa aksi unjuk rasa jebol pintu masuk DPD RI, Jumat, 29/8/2025 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Gelombang demonstrasi yang terjadi pada 25 dan 28 Agustus 2025 dinilai bukan sekadar aksi protes spontan masyarakat. Pengamat politik dari Citra Institute Yusak Farchan melihat ada skenario politik yang sengaja dirancang untuk menciptakan kerusuhan sekaligus menggoyang legitimasi Presiden Prabowo Subianto.

“Memang demo 25 dan 28 Agustus tampak tidak seperti biasanya. Ada indikasi kuat sengaja dibuat rusuh untuk mendelegitimasi wibawa Presiden Prabowo,” ujar Yusak kepada Forum Keadilan, Sabtu, 30/8/2025.

Ia menduga ada kekuatan besar yang menunggangi demonstrasi dan mengarahkan kemarahan publik untuk kepentingan politik tertentu. Jika kerusuhan berulang tanpa mitigasi, Yusak menilai stabilitas politik nasional bisa terguncang.

“Presiden Prabowo bisa kehilangan muruah kepemimpinan karena dianggap tidak bisa menghadirkan rasa aman bagi masyarakat. Ini yang harus diwaspadai Prabowo,” jelasnya.

Lebih jauh, Yusak menyebut, tidak keliru jika muncul spekulasi adanya skenario untuk menjatuhkan Prabowo melalui gelombang demo dan kerusuhan. Ia menilai, isu-isu populis sensitif sengaja diangkat sebagai alat untuk menggoyang pemerintah.

“Narasi yang dirancang untuk menjatuhkan wibawa Prabowo adalah isu-isu populis sensitif seperti kenaikan tunjangan DPR,” katanya.

Menurut Yusak, DPR dipilih sebagai sasaran karena lembaga ini paling mudah dikritisi publik, terutama terkait fasilitas, gaji, dan tunjangan yang dianggap fantastis. Selain itu, isu kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di sejumlah daerah juga ikut digulirkan.

“Kenaikan PBB di sejumlah daerah juga menjadi isu seksi untuk menghantam Prabowo dengan menuding efisiensi anggaran atau pemotongan transfer daerah sebagai biang keladinya. Padahal akar masalahnya ada pada daerah itu sendiri yang tidak inovatif mencari sumber-sumber pendapatan,” terangnya.

Ia mengingatkan, bila wibawa kepemimpinan Prabowo sebagai presiden terus menurun di mata rakyat, tekanan publik untuk menuntut pengunduran diri bisa semakin menguat. Bahkan, Yusak menyoroti adanya kelompok yang sudah secara terbuka meminta Prabowo turun dalam aksi demonstrasi Agustus ini.*

Laporan oleh: Muhammad Reza