Kamis, 09 April 2026
Menu

Gaza Tak Disebut dalam Proposal Gencatan Senjata, Pengamat: Bentuk Strategi Diplomasi Iran

Redaksi
Pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman dalam podcast Dialektika Madilog Forum Keadilan TV | YouTube Forum Keadilan TV
Pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman dalam podcast Dialektika Madilog Forum Keadilan TV | YouTube Forum Keadilan TV
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman menilai, tidak disebutkannya Gaza dalam poin proposal gencatan senjata yang diajukan Iran merupakan bagian dari strategi diplomasi.

Menurut dia, langkah tersebut mencerminkan kecermatan Iran dalam membaca kompleksitas politik global, khususnya sensitivitas isu Gaza dalam konflik kawasan.

“Saya pikir ini bentuk kecerdasan diplomatik dari Iran, kemungkinan karena isu Gaza adalah isu paling sensitif dan paling sulit disepakati,” ujar Dina dalam keterangannya, Kamis, 9/4/2026.

Ia menjelaskan, penyebutan Gaza secara eksplisit dalam dokumen kesepakatan berpotensi menggagalkan proses negosiasi sejak awal. Selain itu, hal tersebut juga dapat menyulitkan Amerika Serikat (AS) dalam mengomunikasikan kesepakatan kepada Israel.

“Jika Gaza disebut secara langsung, itu bisa membuat AS terlihat seperti mengorbankan Israel. Ini sesuatu yang secara politik hampir mustahil diterima,” lanjutnya.

Dina menilai, penggunaan bahasa yang lebih umum dalam proposal tersebut merupakan upaya menjaga agar seluruh pihak tetap berada dalam jalur perundingan.

“Gaza disamarkan dalam bahasa umum agar kesepakatan tetap berjalan,” kata dia.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dalam praktik diplomasi internasional, tidak semua hal harus disampaikan secara eksplisit. Ada aspek tertentu yang justru perlu disederhanakan agar kesepakatan tidak runtuh.

“Diplomasi sering bukan tentang menyebut semua hal, tetapi tentang apa yang cukup disebut agar semua pihak tetap di meja perundingan, dan apa yang perlu disamarkan agar kesepakatan tidak runtuh,” pungkasnya.

Gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran menjadi sorotan berita global lantaran bisa menghentikan perang yang sudah berlangsung sejak 28 Februari untuk sementara waktu.

Israel dikabarkan terkejut mendengar keputusan Presiden AS Donald Trump menyepakati gencatan senjata dengan Iran. Tak hanya menyepakati gencatan, Trump juga dengan ini menyetujui 10 poin tuntutan Iran.

Berdasarkan dokumen yang dirilis melalui mediator Pakistan, Iran mengajukan restrukturisasi hubungan yang mendalam, bukan sekadar gencatan senjata sementara.

Berikut adalah poin-poin krusial dalam proposal tersebut:

1. Penghentian Agresi: Komitmen total AS untuk tidak melakukan serangan militer lebih lanjut terhadap wilayah kedaulatan Iran
2. Pencabutan Sanksi: Penghapusan seluruh sanksi primer AS yang melumpuhkan ekonomi Iran
3. Hak Nuklir: Pengakuan AS atas hak Iran untuk melakukan pengayaan nuklir untuk tujuan damai
4. Keamanan Selat Hormuz: Iran tetap memegang kendali atas Selat Hormuz dengan protokol keamanan baru
5. Biaya Transit (Rezim Hukum Baru): Iran mengusulkan biaya transit sebesar US$2 juta per kapal yang melintasi Selat Hormuz untuk mendanai rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat perang
6. Penarikan Militer AS: Desakan agar militer AS secara bertahap ditarik dari kawasan Teluk
7. Jaminan Keamanan Regional: Penghentian serangan Israel terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran, termasuk Hizbullah di Lebanon
8. Ganti Rugi Perang: Skema kompensasi atas kerusakan fasilitas sipil dan energi selama konflik berlangsung
9. Protokol Jalur Aman: Jaminan jalur lintas maritim yang aman di bawah koordinasi Angkatan Bersenjata Iran
10. Pengakhiran Konflik Permanen: Penolakan terhadap gencatan senjata jangka pendek dan menuntut penyelesaian konflik yang tuntas. Penghentian perang di semua front, termasuk terhadap kelompok perlawanan di Lebanon.*

Laporan oleh: Muhammad Reza