Jumat, 13 Februari 2026
Menu

Purbaya Buka Suara Terkait Pembayaran Utang Whoosh 50 Persen Gunakan APBN

Redaksi
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI dengan Pemerintah, di Jakarta, Rabu, 4/2/2026. | Dok Kementerian Keuangan RI
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI dengan Pemerintah, di Jakarta, Rabu, 4/2/2026. | Dok Kementerian Keuangan RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, buka suara terkait pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh yang disebut akan menggunakan 50 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

50 persen sisanya akan dibayar menggunakan dividen Danantara.

Purbaya mengungkapkan bahwa dirinya belum dapat memastikan skema pelunasan utang itu termasuk kemungkinan penggunaan APBN, karena hingga saat ini pihaknya belum dilibatkan dalam pembahasan lebih lanjut.

“Saya belum tanya tuh masalah itu. Seingat saya sih masih 50-50 tapi saya akan diskusikan,” kata Purbaya kepada wartawan di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Kamis, 12/2/2026.

Purbaya menyatakan belum menerima undangan untuk terlibat dalam proses negosiasi penyelesaian utang Whoosh yang rencananya akan dilakukan di Cina.

Kewajiban pembayaran utang proyek kereta cepat itu mencapai sekitar Rp1,2 triliun per tahun.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa kewajiban utang pembangunan Whoosh akan dipenuhi melalui APBN.

“Saya belum tanya tuh masalah itu. Seingat saya sih masih 50-50 tapi saya akan diskusikan,” ujar Purbaya kepada wartawan di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Kamis, 12/2/2026.

Diberitakan sebelumnya, “Saya belum tanya tuh masalah itu. Seingat saya sih masih 50-50 tapi saya akan diskusikan,” ujar Purbaya kepada wartawan di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Kamis, 12/2.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, memastikan bahwa utang pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh dibayar menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Diketahui sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto berkomitmen untuk membayar utang Whoosh sebesar Rp1,2 triliun per tahun.

“Iya (bayar utang Whoosh pakai APBN),” ujar Prasetyo di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/2).

Ia menjelaskan bahwa Istana mendapatkan laporan rapat terakhir tentang pembayaran utang itu masih dalam proses pembicaraan teknis. Negosiasi pelunasan utang itu akan dipimpin oleh CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani.

“Kemarin laporan terakhir rapat di Danantara Jadi masih ada finalisasi Sekarang proses negosiasi atau Pembicaraan teknisnya itu Langsung dipimpin oleh Pak Rosan sebagai CEO Danantara,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Prabowo menegaskan pemerintah Indonesia akan membayar kewajiban sebesar Rp1,2 triliun per tahun. Menurutnya, pemerintah siap menanggung tanggung jawab finansial proyek tersebut.

“Enggak usah khawatir apa itu ribut-ribut Whoosh. Saya sudah pelajari masalahnya, tidak ada masalah. Saya tanggung jawab nanti Whoosh semuanya,” ujar Prabowo saat meresmikan Stasiun Tanah Abang Baru, Jakarta, Selasa, 4/11/2025.

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menolak penggunaan APBN untuk pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh

Purbaya menjelaskan seharusnya Danantara yang bertanggung jawab atas utang itu. Sejak Maret 2025, negara tidak lagi menerima setoran dividen BUMN, dikarenakan dialihkan ke Danantara.

“Yang jelas saya sekarang belum dihubungi. Kalau di bawah Danantara mereka kan sudah manajemen sendiri, punya dividen sendiri yang rata-rata bisa (Rp) 80 triliun lebih, harusnya mereka sudah di situ jangan di kita lagi (Kemenkeu),” kata Purbaya secara daring dalam Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Jawa Barat, dikutip Minggu, 12/10/2025.

Sebagai informasi, total biaya proyek Whoosh mencapai USD7,27 miliar atau sekitar Rp120 triliun (kurs Rp16.570 per dolar AS), termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) senilai USD1,2 miliar atau Rp19,8 triliun. *