MBG untuk Siswa Puasa Akan Dibawa Pulang, Isinya Telur hingga Abon
FORUM KEADILAN – Menu-menu makan bergizi gratis (MBG) selama bulan Ramadan akan disesuaikan dengan wilayah penerima manfaat.
Mekanisme penyaluran MBG ini diungkapkan oleh Kepala Badan Gizi Nasiona (BGN) Dadan Hindayana. Dadan mengungkapkan bahwa terdapat empat mekanisme pembagian MBG selama Ramadan.
Bagi pelajar yang daerahnya mayoritas muslim, maka makanan bakal dibagikan untuk dibawa pulang dengan menu yang dipilih lebih tahan lama.
“Untuk anak sekolah, mayoritas di daerah puasa itu makanannya akan berupa makanan yang tahan lama yang untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat buka (puasa),” ujar Dadan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 9/2/2026.
Lalu, untuk pelajar yang berada di daerah dengan mayoritas nonmuslim, maka makanan bakal tetap dibagikan seperti biasa untuk dimakan pada jam istirahat sekolah.
“Untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas tidak puasa, pelayanannya normal ya, dan seperti biasa makan segar di jam biasa karena mayoritas tidak puasa,” ungkap Dadan.
Kemudian, MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui dan juga balita akan tetap disalurkan seperti biasa. Menunya juga tidak diubah.
Sementara itu, untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada di dalam bahkan penerima manfaat berada di pesantren, maka pelayanannya akan normal. Akan tetapi, waktunya diubah menjadi sore hari menjelas berbuka.
“Sementara, untuk SPPG yang ada di dalam pesantren dan penerima manfaatnya juga di pesantren, maka pelayanan normal, tetapi waktunya digeser ke sore hari menjelang puasa,” tutur Dadan.
Dadan pun mengungkap bahwa BGN sudah menetapkan menu MBG untuk dibawa pulang para pelajar yang berpuasa.
“Contohnya kurma, kemudian telur rebus atau telur asin, telur pindang. Kemudian ada abon, buah, susu, dan penganan-penganan lokal yang saya kira secara tradisional banyak disajikan di bulan ramadan yang tahan lama,” kata dia.
Lebih jauh, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak akan menggunakan produk makanan dan minuman yang diproduksi oleh perusahaan besar. BGN akan memprioritaskan produk-produk dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Sesekali boleh, tapi tidak setiap hari. Jadi kita ingin mendorong agar UMKM terlibat banyak di dalam proses penyediaan menu di saat Ramadan ini,” pungkasnya.*
