Rabu, 04 Februari 2026
Menu

Permintaan Pilu Bocah SD di NTT, Minta Beli Buku dan Pena Sebelum Bunuh Diri

Redaksi
Emoji berwajah menangis yang digambar korban berinisial YBR (10) dalam surat untuk sang ibu | Ist
Emoji berwajah menangis yang digambar korban berinisial YBR (10) dalam surat untuk sang ibu | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Seorang siswa kelas IV berinisial YBR di salah satu sekolah dasar di Kabuparen Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan tewas tergantung di dahan pohon cengkeh pada Kamis, 29/1/2025.

Korban berusia 10 tahun ini disebut pernah meminta dibelikan buku tulis dan pena kepada sang ibu sebelum ia mengakhiri hidupnya.

Usai pemeriksaan polisi, diketahui bahwa sang ibu tidak bisa memenuhi permintahan sang anak lantaran tidak mempunyai uang yang cukup.

Berdasarkan keterangan saksi bernama Gregorius Kodo menyebut bahwa korban korban menghadapi banyak tantangan hidup yang akhirnya membuat anak tersebut tinggal bersama neneknya.

Ibunda korban berinisial MGT (47), saat pemeriksaan polisi mengaku bahwa pada malam sebelum peristiwa tersebut terjadi, korban sempat menginap di rumahnya. Keesokan paginya sekitar pukul 6 pagi, dirinya meminta tukang ojek mengantarkan sang anak yang merupakan korban, ke pondok neneknya.

MGT juga mengaku pernah menasihati sang anak untuk terakhir kalinya supaya tetap rajin bersekolah.

Berdasarkan pemeriksaan polisi, MGT mengaku kondisi ekonomi keluarga masuk dalam golongan terbatas dan juga menghadapi berbagai kekurangan.

Setelah itu, korban ditemukan meninggal dunia pada Kamis, 29/1 dalam kondisi tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh. Tempat kejadian perkara (TKP) berada tidak jauh dari pondok tempat tinggalnya bersama sang nenek.

Dalam penyelidikan petugas Kepolisian yang dilakukan di TKP, ditemukan sebuah surat yang diduga ditulis tangan oleh korban dengan bahasa Ngada untuk sang ibu. Terlihat dalam surat tersebut juga korban meminta sang ibu untuk merelakannya pergi terlebih dulu. Pada surat itu juga ditulis supaya ibunda merelakan dan tidak perlu menangis, mencari, bahkan merindukannya. Di bagian akhir surat tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji berwajah menangis.

Kemudian, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf (Gus Ipul) merasa berduka dan prihatin atas peristiwa ini. Ia menyebut peristiwa ini harus menjadi atensi bersama.

“Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” ungkap Gus Ipul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 3/2/2026.

Menurut Gus Ipul perlu adanya pendampingan khusus kepada keluarga yang terbilang tak mampu. Ia juga menyinggung pentingnya penguatan data demi melakukan rehabilitasi untuk keluarga yang membutuhkan pemberdayaan.

“Ya tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata,” tuturnya.

“Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data, bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi dan memerlukan pemberdayaan. Ya, jadi itu sampai di situ dulu dan ini sungguh-sungguh menjadi perhatian bersama,” sambung dia.

Di sisi lain, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengaku belum mengetahui pasti kasus tersebut. Dirinya pun akan menyelidiki lebih jauh terkait penyebab anak tersebut mengakhiri hidupnya.

“Saya belum tahu, nanti kita selidiki lagi ya penyebabnya apa dan sebagainya,” kata Abdul Mu’ti.

Adapun isi surat YBR kepada sang ibu adalah sebagai berikut:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama).*