Rabu, 28 Januari 2026
Menu

Soroti Penurunan Angka Pernikahan di Indonesia, Atalia: Apa yang Terjadi pada Saya Bukan Contoh

Redaksi
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Golkar Atalia Praratya dalam Rapat Kerja bersama Kementerian Agama, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 28/1/2026 | YouTube TVR Parlemen
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Golkar Atalia Praratya dalam Rapat Kerja bersama Kementerian Agama, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 28/1/2026 | YouTube TVR Parlemen
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Golkar Atalia Praratya menyoroti tren penurunan angka pernikahan di Indonesia yang terus terjadi dari tahun ke tahun. Ia menegaskan bahwa peristiwa perceraian dalam rumah tangganya dengan mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, tidak layak dijadikan contoh oleh masyarakat.

“Apa yang terjadi pada saya tentu bukan menjadi contoh. Tapi yang terjadi saat ini harus menjadi perhatian bagi kita semua, bahwa terkait angka pernikahan ini ternyata terus turun sejak 2013,” katanya dalam Rapat Kerja bersama Kementerian Agama, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 28/1/2026.

Ia memaparkan, berdasarkan data kumulatif rata-rata periode 2021 hingga 2024, angka pernikahan nasional tercatat mengalami penurunan sekitar 15,1 persen. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam pola pembentukan keluarga di Indonesia.

“Ini menunjukkan perubahan signifikan dalam pola pembentukan keluarga. Kita tidak mau seperti Korea Selatan misalnya, yang penurunan angka pernikahannya mencapai 40 persen. Jepang turun 21,1 persen, dan Cina juga sekitar 20 persen,” jelasnya.

Atalia menilai, tren tersebut perlu disikapi secara serius melalui berbagai kebijakan dan program yang mendukung penguatan institusi keluarga.

Meski begitu, Ia mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Kementerian Agama, salah satunya melalui program Tepuk Sakinah serta berbagai program penyiapan calon pengantin.

“Saya mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Kemenag, ada Tepuk Sakinah, kemudian banyak sekali program penyiapan calon pengantin. Ini patut diapresiasi,” katanya.

Namun demikian, ia menekankan bahwa ketahanan keluarga juga menjadi aspek penting yang harus diperkuat. Menurutnya, generasi muda perlu mendapatkan pembekalan yang matang mengenai pentingnya institusi pernikahan.

“Ketahanan keluarga ini penting supaya betul-betul, khususnya anak muda kita, memiliki pembekalan yang baik terkait bagaimana pentingnya institusi pernikahan untuk dioptimalkan,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Novia Suhari