Selasa, 27 Januari 2026
Menu

Ahok Sebut Tempat Negosiasi Paling Sehat dan Murah Adalah Lapangan Golf

Redaksi
Eks Komisaris Utama (Komut) Pertamina periode 2019-2024 Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di sidang anak Riza Chalid di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa, 27/1/2026 | Syahrul Baihaqi/Forum Keadilan
Eks Komisaris Utama (Komut) Pertamina periode 2019-2024 Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di sidang anak Riza Chalid di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa, 27/1/2026 | Syahrul Baihaqi/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Eks Komisaris Utama (Komut) Pertamina Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengatakan bahwa tempat negoisasi paling sehat dan murah ialah bermain golf.

Hal itu ia ungkapkan saat dihadirkan sebagai saksi oleh Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Agung (JPU Kejagung) di kasus tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina dengan terdakwa Riva Siahaan, Sani Dinar Saifuddin, Yoki Firnandi, Agus Purwono, Gading Ramadhan Joedo, Dimas Werhaspati, Maya Kusmaya, Edward Corne, dan Muhammad Kerry Adrianto Riza.

Mulanya, jaksa menanyakan terkait peran Dewan Komisaris dalam mengawasi etika para direksi Pertamina. Ahok membenarkan hal tersebut. Lantas, jaksa menanyakan soal pertemuan direksi dengan pihak lain saat bermain golf.

“Bagi komisaris di periode Saudara kalau pertemuan-pertemuan yang kaitannya dengan golf bersama antara direksi misalnya dengan pihak-pihak lain yang punya kepentingan sebetulnya dengan proses pengadaan itu bagaimana menurut dewan komisaris?” tanya jaksa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa, 27/1/2026.

Menjawab hal tersebut, ia mengaku bahwa bermain golf merupakan olahraga yang ia sempat benci.

“Ini soal pribadi ya, saya dulu paling benci main golf Pak. Saya melarang semua orang Pemda tidak boleh main golf karena kita kerja terlalu banyak,” jawabnya.

Namun, ketika dirinya mulai menjabat di Pertamina, mau tidak mau dia terpaksa mengambil kursus untuk berlatih golf.

“Tapi ketika saya masuk ke Pertamina saya baru menyadari semua orang minyak dari Amerika, Chevron, Exxon ngajak main golf terus. Saya kan malu Pak enggak bisa mukul Pak. Saya terpaksa pergi sekolah golf supaya bisa menemani mereka,” ujarnya.

Eks Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bahwa lapangan golf menjadi tempat negoisasi paling murah dan sehat dibandingkan dengan tempat hiburan malam atau nightclub.

“Karena misalnya saya nego dengan Exxon saya mau minta bagian saham, itu dia ada negosiasi di lapangan golf itu, jauh lebih murah daripada nightclub. Saya kira golf adalah tempat negosiasi paling sehat paling murah, jemur, jalan, murah dan bayarin anggota main itu sangat murah, makanya saya belajar golf, saya menjamu orang-orang Exxon untuk main golf saya sampai ke Chevron diajak main golf minimal saya tidak main 138 lah kira-kira gitu loh main 100 masih oke. Nah itu biasa Pak,” ujarnya.

Adapun dalam surat dakwaan, kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah Pertamina sudah memberikan kerugian negara sebesar Rp285 triliun, yakni karena impor produk kilang dan penjualan solar non-subsidi.

Nilai kerugian akibat ekspor minyak mentah diperkirakan mencapai US$1.819.086.068,47, sementara dari impor minyak mentah sekitar US$570.267.741,36.

Lebih lanjut, jaksa menyebut adanya kerugian perekonomian negara senilai Rp171.997.835.294.293,00 triliun akibat harga pengadaan BBM yang terlalu tinggi sehingga menimbulkan beban ekonomi tambahan. Selain itu, terdapat keuntungan ilegal sebesar US$2.617.683.34 yang berasal dari selisih harga antara impor BBM melebihi kuota dan pembelian BBM dari dalam negeri.*

Laporan oleh: Syahrul Baihaqi