Pengamat: Pengaruh Politik Jokowi Mulai Melemah, Dukungan ke Prabowo-Gibran Strategi Bertahan
FORUM KEADILAN – Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menilai, kekuatan politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat ini tidak lagi dominan, meskipun ia masih terlihat aktif dalam dinamika politik nasional pasca lengser dari kursi kekuasaan.
Menurut Iwan, sejak awal Jokowi sebenarnya telah menyatakan niat untuk pensiun dari politik dan kembali menjadi rakyat biasa. Namun, realitas politik membuat Jokowi kembali masuk ke gelanggang kekuasaan, terutama demi menjaga kepentingan politik keluarganya.
“Jokowi ini terpaksa harus masuk lagi dalam gelanggang politik. Bukan untuk semata-mata dirinya, tetapi untuk keluarganya. Karena beliau sudah terlanjur menggendong anak-anaknya masuk ke politik,” kata Iwan kepada Forum Keadilan, Kamis, 22/1/2026.
Iwan menilai, Jokowi merasa perlu terus menjaga posisi politik keluarganya karena para anggota keluarga tersebut dinilai belum matang secara politik. Kondisi itu membuat Jokowi tetap melakukan manuver, meski secara formal sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Di sisi lain, Iwan juga menyoroti relasi politik antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Prabowo dikenal sebagai sosok yang tidak mudah melupakan jasa maupun komitmen politik.
“Kita tahu sendiri bahwa Jokowi membantu Prabowo memenangi pilpres kemarin, dan itu diakui langsung oleh Prabowo. Secara karakter, Prabowo tidak mudah melupakan jasa politik,” ujarnya.
Namun demikian, Iwan menilai, dukungan Jokowi terhadap Prabowo tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan politik yang masih solid. Ia menyinggung deklarasi Jokowi beberapa bulan lalu yang menyatakan dukungan terhadap pasangan Prabowo-Gibran untuk dua periode.
“Deklarasi Prabowo-Gibran dua periode itu justru mengindikasikan Jokowi mulai menyadari bahwa kekuatan politiknya melemah. Apalagi sudah muncul calon-calon lain yang mulai bermanuver,” kata Iwan.
Oleh karena itu, Iwan tidak sepakat dengan anggapan bahwa Jokowi masih menjadi aktor politik paling dominan saat ini. Ia menilai, strategi politik Jokowi lebih bersifat defensif ketimbang ofensif.
“Gibran sebenarnya dipersiapkan sejak awal untuk maju sebagai calon presiden 2029. Tapi target itu mundur, dan pilihan yang lebih realistis saat ini adalah sebagai calon wakil presiden di 2029,” ujarnya.
Menurut Iwan, langkah-langkah politik Jokowi belakangan lebih menunjukkan upaya mempertahankan pengaruh dalam situasi yang semakin kompetitif, bukan lagi sebagai figur yang sepenuhnya mengendalikan arah politik nasional.*
Laporan oleh: Muhammad Reza
