Indonesia Belum Putuskan Penarikan Pasukan UNIFIL di Lebanon
FORUM KEADILAN – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan keputusan terkait kemungkinan penarikan pasukan Indonesia dari misi perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) masih dalam pertimbangan matang.
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menegaskan bahwa kehadiran pasukan Indonesia di UNIFIL adalah komitmen internasional Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia di bawah mandate Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Perlu dipahami bahwa kehadiran pasukan Indonesia merupakan bagian dari komitmen internasional terhadap peace and security. Setiap keputusan terkait isu ini akan melalui pertimbangan yang sangat matang,” ujar Yvonne dalam konferensi pers di Ruang Palapa, Jakarta, Rabu, 8/4/2026.
Menurut Yvonne, pertimbangan matang seperti aspek keselamatan personel, keberlanjutan mandat UNIFIL, hingga peran Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan.
“Semua keputusan akan memperhatikan berbagai pertimbangan secara matang. Yang paling penting tentunya keselamatan dan keamanan pasukan kita, sekaligus relevansi mandat UNIFIL itu sendiri,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia, lanjutnya, akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut usai proses evaluasi selesai dilakukan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Keamanan dan Perdamaian International Kemlu RI, Veronica Vicka Ancilla, menyatakan bahwa Indonesia mengutuk keras insiden tersebut.
“Ini masih merupakan preliminary investigation. Apabila hasil investigasi penuh mengonfirmasi temuan investigasi awal ini, maka pemerintah Indonesia akan mengutuk keras Israel atas tindakan yang mengakibatkan gugurnya dan terlukanya prajurit TNI yang bertugas sebagai personel pemeliharaan perdamaian,” jelas Veronica.
Veronica menegaskan tindakan akan dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
“Pemerintah Indonesia akan meminta kepada PBB untuk mendesak otoritas terkait agar menyelidiki, mengadili, dan memastikan akuntabilitas penuh bagi para pelaku,” lanjutnya.
Di sisi lain, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa pemerintah akan mengevaluasi kembali pengiriman pasukan penjaga perdamaian RI ke UNIFIL akibat gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas di sana.
Ia mengatakan bahwa pernyataan Kemlu dan Utusan RI untuk PBB, Umar Hadi, juga bagian evaluasi atas kasus tersebut.
“Iya pasti, makanya apa yang disampaikan Pak Menlu itu juga bagian dari proses evaluasi. Apa yang kita minta yang disampaikan perwakilan kita di PBB juga itu bagian dari dari evaluasi gitu,” ujar Prasetyo di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 8/4/2026.
Tetapi, Prasetyo masih enggan menjelasan lebih detail terkait kans RI yang menarik pasukan yang bertugas di sana.
Ia mengatakan langkah tersebut masih akan melihat terlebih dulu hasil penyelidikan mendalam PBB yang berujung pada gugurnya tiga prajurit TNI di UNIFIL.
“Kita belum terima laporan,” tuturnya.
Diberitakan, tiga personel pasukan perdamaian UNIFIL asal Indonesia tewas akibat serangan Israel.
Mereka adalah Praka Dua Farizal Rhomadhon, yang tewas akibat tembakan artileri di sekitar posisi kontingen UNIFIL Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, pada Minggu, 29/3/2026.
Kemudian, keesokan harinya pada Senin, 30/3/2026, dua personel UNIFIL kembali kehilangan nyawa akibat konvoi pasukan yang mereka kawal diserang.
Dua personel yang gugur adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan
Di sisi lain, sebanyak lima prajurit TNI yang terluka meliputi Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana, Prajurit Kepala (Praka) Deni Rianto, Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.
Tiga pasukan UNIFIL dari TNI kembali korban serangan terbaru di basis Hizbullah, Lebanon, pada Jumat, 3/42026. Dari tiga korban yang dilaporkan, dua di antaranya mengalami luka parah. *
