Paus Leo XIV: Yesus Tidak Mendengarkan Doa Orang-orang yang Berperang
FORUM KEADILAN – Paus Leo XIV menegaskan bahwa Yesus menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan memiliki ‘tangan penuh darah’.
Pernyataan tegas tersebut ia sampaikan di hadapan puluhan ribu orang di Palm Sunday, perayaan yang membuka pekan suci menjelang Paskah. Pemimpin tertinggi umat Katolik mengatakan bahwa Yesus tidak dapat digunakan untuk membenarkan perang apa pun.
“Inilah tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” ujar Paus Leo di St. Peter’s Square, Vatikan, Minggu, 29/3.
“(Yesus) tidak mendengarkan doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya, dengan mengatakan, ‘sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan, tanganmu penuh darah,” katanya, mengutip ayat Alkitab.
Paus Leo juga mengutip Alkitab mengenai kisah jelang penyaliban Yesus. Ia mengatakan bahwa sebelum ditangkap, Yesus menegur salah satu pengikutnya karena menyerang orang yang hendak menangkapnya dengan pedang.
“(Yesus) tidak mempersenjatai diri, tidak membela diri, dan tidak berperang. Ia menyingkapkan wajah tuhan yang penuh kelembutan, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri, Ia membiarkan diri-Nya disalibkan,” pungkasnya.
Paus Leo tidak secara khusus menyebut nama pemimpin dunia mana pun, namun dalam beberapa pekan terakhir Ia terus mengkritik perang Iran melawan agresi AS dan Israel.
Ia yang dikenal berhati-hati dalam memilih kata, berulang kali mengaungkan gencatan senjata dalam perang itu. Senin lalu, Paus Leo sempat menyatakan serangan udara militer bersifat tidak pandang buku dan harus dilarang. *
Berdasarkan catatan Reuters, beberapa pejabat AS menggunakan bahasa Kristen untuk membenarkan invasi gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang memicu meluasnya perang.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada Rabu kemarin, memimpin doa Kristen di Pentagon. Dalam doanya, Hegseth memohon agar ‘tindakan kekerasan yang luar biasa’ dijatuhkan terhadap mereka yang dianggap tidak layak mendapat belas kasihan. *
FORUM KEADILAN – Paus Leo XIV menegaskan bahwa Yesus menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan memiliki ‘tangan penuh darah’.
Pernyataan tegas tersebut ia sampaikan di hadapan puluhan ribu orang di Palm Sunday, perayaan yang membuka pekan suci menjelang Paskah. Pemimpin tertinggi umat Katolik mengatakan bahwa Yesus tidak dapat digunakan untuk membenarkan perang apa pun.
“Inilah tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” ujar paus pertama asal Amerika Serikat kepada umat Katolik di , di St. Peter’s Square, Vatikan, Minggu, 29/3.
“(Yesus) tidak mendengarkan doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya, dengan mengatakan, ‘sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan, tanganmu penuh darah,” ujar Paus Leo, mengutip ayat Alkitab.
Paus Leo juga mengutip Alkitab mengenai kisah jelang penyaliban Yesus. Ia mengatakan bahwa sebelum ditangkap, Yesus menegur salah satu pengikutnya karena menyerang orang yang hendak menangkapnya dengan pedang.
“(Yesus) tidak mempersenjatai diri, tidak membela diri, dan tidak berperang. Ia menyingkapkan wajah tuhan yang penuh kelembutan, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri, Ia membiarkan diri-Nya disalibkan,” pungkasnya.
Paus Leo tidak secara khusus menyebut nama pemimpin dunia mana pun, namun dalam beberapa pekan terakhir Ia terus mengkritik perang Iran melawan agresi AS dan Israel.
Ia yang dikenal berhati-hati dalam memilih kata, berulang kali mengaungkan gencatan senjata dalam perang itu. Senin lalu, Paus Leo sempat menyatakan serangan udara militer bersifat tidak pandang buku dan harus dilarang. *
Berdasarkan catatan Reuters, beberapa pejabat AS menggunakan bahasa Kristen untuk membenarkan invasi gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang memicu meluasnya perang.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada Rabu kemarin, memimpin doa Kristen di Pentagon. Dalam doanya, Hegseth memohon agar ‘tindakan kekerasan yang luar biasa’ dijatuhkan terhadap mereka yang dianggap tidak layak mendapat belas kasihan. *
